Nasional

Nasional (445)

BOGOR, lensafokus.id — Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bogor terus memperkuat langkah preventif untuk menjaga ketertiban dan ketenteraman umum (trantibum).

Tak hanya mengandalkan patroli dan penindakan, Satpol PP kini mendorong partisipasi aktif masyarakat melalui program Kampung Trantibum.

Sebagai langkah awal, wilayah di Kelurahan Ciluar dipersiapkan menjadi pilot project atau percontohan program berbasis komunitas tersebut.

Kepala Satpol PP Kota Bogor, Pupung W. Purnama, mengungkapkan bahwa proses pembinaan terhadap warga serta pengurus RT dan RW di Kelurahan Ciluar telah berjalan sekitar satu bulan. Edukasi menitikberatkan pada pemahaman regulasi agar masyarakat dapat mengenali potensi gangguan ketertiban sejak dini.

"Targetnya, kita menjadikan RW tersebut percontohan, di mana warga ikut terlibat dan berpartisipasi aktif menjaga trantibum. Mereka diberikan pelatihan dan edukasi terkait regulasi. Jika berhasil, program ini bisa direplikasi oleh RW lain di Kota Bogor," ujar Pupung, Jumat (14/8/2026).

Di samping pendekatan berbasis masyarakat, Satpol PP Kota Bogor bersama Polresta Bogor Kota tetap mengintensifkan patroli lapangan guna mengantisipasi aksi persekusi dan main hakim sendiri.

Beberapa titik rawan yang menjadi fokus perhatian petugas meliputi, kawasan belakang Blok C-D, area pasar, kawasan Bubulak dan terminal, wilayah Sukasari.

Pupung menegaskan bahwa kehadiran aparat di lapangan mengedepankan fungsi pencegahan agar tidak ada lagi aksi kekerasan sepihak yang melanggar hukum. Warga diimbau untuk segera melapor ke pihak berwenang jika menemukan aktivitas yang mencurigakan atau mengganggu ketertiban.

"Upaya kami lebih kepada mencegah agar tidak terjadi persekusi lagi. Persekusi itu tindakan main hakim sendiri dan melanggar hukum. Jika masyarakat menemukan hal yang mengganggu ketertiban, kami mengimbau untuk segera melaporkan kepada petugas, bukan bertindak sendiri," tegas Pupung. (Zulfi kusuma)

JAKARTA, lensafokus.id – Perkumpulan PTK Indonesia menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) sebagai momentum penting dalam menetapkan arah kebijakan dan strategi organisasi untuk masa bakti 2025–2029.

Rakernas yang berlangsung di Jakarta, Sabtu (8/8/2026), diwarnai suasana penuh kebersamaan dan semangat persatuan. Kegiatan tersebut dihadiri jajaran pimpinan organisasi, tokoh masyarakat, para ketua perkumpulan, serta sejumlah tamu undangan yang bertindak sebagai tim peninjau.

Sejumlah tokoh yang hadir di antaranya Ketua Dewan Pembina PTK Indonesia, Vinsen Effendy Lie; Ketua Dewan Pengarah PTK Indonesia, Prof. Dr. Darmadi Durianto, SH., MH.; Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie; Ketua Dewan Pengawas PTK Indonesia, Tjhai Leonardi; serta Dewan Kehormatan PTK Indonesia, Abraham Rudy.

Rakernas dipimpin langsung Ketua Umum PTK Indonesia, Yordanus, selaku pimpinan sidang. Dalam menjalankan persidangan, ia didampingi jajaran pengurus inti, yakni Wakil Ketua Umum Hiu Kon Bun dan Agus Musalim, Sekretaris Jenderal Venndy Wijaya bersama Wakil Sekretaris Jenderal, serta Bendahara Umum Jie Kui Lie.

Agenda utama Rakernas adalah pemaparan dan pengesahan program kerja dari 11 bidang di lingkungan PTK Indonesia untuk masa bakti 2025–2029.

Masing-masing bidang memaparkan rancangan program kerja secara terstruktur, mulai dari rencana kegiatan jangka panjang, target capaian, strategi pelaksanaan, hingga manfaat yang diharapkan dapat dirasakan oleh anggota, perkumpulan, maupun masyarakat luas.

Setelah melalui pembahasan dan diskusi bersama, seluruh peserta forum menyepakati rancangan program kerja yang telah dipaparkan.

Pengesahan program kerja tersebut ditandai dengan ketukan palu sidang oleh Ketua Pimpinan Sidang, Yordanus. Dengan demikian, seluruh program kerja dari 11 bidang resmi disahkan dan ditetapkan sebagai pedoman organisasi selama masa bakti 2025–2029.

Pengesahan tersebut menjadi salah satu agenda strategis dalam perjalanan PTK Indonesia karena memberikan landasan kerja yang lebih terarah bagi seluruh jajaran organisasi dalam menjalankan program selama empat tahun mendatang.

Dengan disahkannya 11 bidang program kerja, PTK Indonesia kini memiliki peta jalan organisasi yang lebih jelas dan terpadu. Program yang telah ditetapkan diharapkan dapat menjadi pedoman bagi seluruh jajaran dalam menjalankan tugas serta mewujudkan visi dan misi organisasi.

Rakernas juga menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi dan soliditas antara pimpinan organisasi, perkumpulan, serta seluruh anggota PTK Indonesia.

Semangat kebersamaan yang terbangun dalam Rakernas menjadi modal penting bagi PTK Indonesia untuk terus memperkuat persaudaraan, persatuan, dan pengabdian kepada masyarakat serta bangsa Indonesia. (Red)

BOGOR, lensafokus.id — SMP YKTB Kota Bogor sukses menggelar kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi para siswa baru.

Mengusung tema "Sasmita Nusantara", rangkaian acara yang berlangsung selama lima hari ini dirancang tidak hanya untuk mengenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga membentuk karakter siswa yang disiplin, peduli lingkungan, tanggap bencana, serta percaya diri.

Sejak hari pertama, para siswa baru sudah dibiasakan untuk menerapkan kedisiplinan dengan hadir di sekolah tepat waktu pada pukul 07.00 WIB. Sebanyak lima kelompok yang dinamai berdasarkan nama-nama pahlawan dari Jawa Barat dibentuk untuk membangun semangat kebersamaan dan pengenalan antarpeserta didik.

Panitia MPLS Bagian Kesiswaan SMP YKTB, Ria Balkis, menjelaskan bahwa pembagian kelompok ke dalam gugus pahlawan lokal bertujuan untuk menanamkan nilai sejarah dan kebangsaan sejak dini. Selain itu, materi yang diberikan setiap harinya dirancang bervariasi agar memberikan pengalaman belajar yang komprehensif.

"Pembagian kelompok siswa kami bagi menjadi 5 gugus dengan nama-nama pahlawan Jawa Barat. Di hari terakhir, setiap gugus wajib menampilkan pentas seni sebagai wadah untuk mengekspresikan bakat mereka," ujar Balkis, Jumat (24/7/26).

Rangkaian materi MPLS SMP YKTB menghadirkan berbagai kegiatan edukatif yang melibatkan pemateri luar. Pada hari kedua, sekolah bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk memberikan edukasi mitigasi bencana, yang dilanjutkan dengan simulasi penanganan gempa bumi secara langsung oleh para siswa.

Memasuki hari ketiga, kegiatan berfokus pada kesadaran lingkungan melalui sesi bersama Bank Sampah. Para siswa diajarkan cara memilah sampah organik dan non-organik, mengidentifikasi bahan yang dapat didaur ulang, hingga memahami nilai ekonomis dari pengelolaan sampah yang tepat.

Tak berhenti di situ, pada hari keempat para siswa diajak melakukan aksi hijau dengan menanam tanaman. Setiap gugus bekerja sama membawa pot, pupuk kompos, serta bibit tanaman untuk mempelajari media tanam dan mempraktikkan penghijauan di lingkungan sekolah.

Puncak rangkaian MPLS ditutup pada hari kelima dengan penampilan Pentas Seni (Pensi). Seluruh siswa dari masing-masing gugus diwajibkan unjuk kebolehan, mulai dari seni tari (dance), seni peran, hingga seni musik.

Keseruan puncak acara dirasakan langsung oleh para siswa baru, salah satunya dari Gugus 2. Empat siswa baru, Saina, Shafa, Feby, dan Angita mengaku sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian acara, terutama saat berpartisipasi dalam pertunjukan dance, drama musik, dan bernyanyi bersama guru.

"Seru banget! Kami belajar banyak hal baru yang belum pernah dicoba sebelumnya. Sekarang rasanya jadi lebih percaya diri dan punya lebih banyak teman. Semua harinya seru, tapi hari terakhir pas pentas seni ini yang paling kami suka," ungkap Saina mewakili kawan-kawannya.

Melalui perpaduan edukasi kebencanaan, kelestarian lingkungan, dan wadah kreativitas seni, MPLS SMP YKTB bertema "Sasmita Nusantara" diharapkan mampu menjadi fondasi awal yang kuat bagi para siswa baru dalam menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. (Zulfi Kusuma)

Bandung, lensafokus.id — Teras rumah yang seharusnya menjadi area pribadi warga diduga disalahgunakan menjadi lapak transaksi obat keras golongan G secara terang-terangan. Praktik berbahaya ini ditemukan beroperasi di Jalan Pajagalan, Desa Cicalengka Kulon, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung.

Berdasarkan investigasi tim media di lokasi pada Selasa (21/7/2026), aktivitas jual beli barang haram tersebut berlangsung terbuka tanpa tersentuh hukum. Pembeli terlihat datang silih berganti secara leluasa. Hal yang paling memprihatinkan, mayoritas pembeli didominasi oleh kalangan remaja dan generasi muda.

Informasi yang dihimpun mengindikasikan bahwa salah satu jenis obat keras yang diperjualbelikan secara bebas di lokasi tersebut adalah Tramadol. Peredaran obat keras tanpa izin edar dan tanpa resep dokter ini merupakan pelanggaran berat terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, sekaligus mengancam keselamatan jiwa para pengkonsumsinya.

"Praktik ini sangat meresahkan. Jika dibiarkan, masa depan anak-anak muda di wilayah ini bisa hancur perlahan akibat ketergantungan obat keras," ujar salah satu warga sekitar yang meminta identitasnya dirahasiakan demi alasan keamanan.

Maraknya peredaran obat keras di pemukiman warga memicu kekhawatiran mendalam. Masyarakat mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) bersama dinas terkait untuk tidak tinggal diam dan segera turun tangan melakukan penyelidikan serta penindakan tegas di lapangan.

Warga menuntut adanya pengawasan ekstra ketat di wilayah Cicalengka agar praktik serupa tidak semakin merajalela dan merusak tatanan sosial masyarakat.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterbukaan maupun keterangan resmi dari pihak kepolisian setempat mengenai dugaan aktivitas penjualan obat keras di lokasi tersebut. (Publik)

BOGOR, lensafokus.id – Guna menjawab tantangan pudarnya minat generasi muda terhadap kegiatan kepramukaan di tingkat SLTA akibat gempuran gadget, SMK YKTB Bogor menggelar Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD) Mandiri.

Kegiatan yang dipusatkan di sekolah dan kawasan Rancamaya ini bertujuan melahirkan pembina Pramuka yang kompeten, berkarakter, dan memiliki legalitas resmi sesuai standar Pusdiklatcab Kota Bogor.

Ketua Pelaksana KMD Mandiri SMK YKTB, Kusnadi, mengungkapkan bahwa kegiatan ini awalnya diutamakan untuk penguatan kapasitas guru internal YKTB. Namun, atas dasar kepedulian terhadap kemajuan Pramuka di Bogor, kepesertaan akhirnya dibuka untuk para pembina di wilayah sekitar.

"Kami tidak hanya ingin memajukan keluarga besar YKTB saja, tetapi juga merangkul para pembina di wilayah Bogor Utara, Selatan, Timur, Tengah, dan seterusnya untuk tumbuh bersama," ujar Kusnadi saat memberikan keterangan, selasa (07/8/26).

IMG 20260708 WA0019

Menyadari tingginya biaya operasional penyelenggaraan KMD di luaran yang jamak mencapai Rp1.000.000 hingga Rp1.050.000, pihak manajemen YKTB memberikan subsidi besar-besaran. Didukung penuh oleh Direktur Pendidikan YKTB, biaya untuk peserta luar ditekan menjadi Rp850.000 saja, sementara biaya guru internal hampir seluruhnya ditanggung lembaga.

"Kegiatan ini membutuhkan biaya yang sangat besar, sehingga jarang bisa digelar beberapa kali dalam setahun. Alhamdulillah, Pak Direktur sangat mendukung penuh peningkatan kualitas karakter ini," tambah Kusnadi, yang saat ini juga tengah disupport lembaga menyelesaikan jenjang Kursus Pelatih Pembina Pramuka (KPD/KPL).

Dari target 40 peserta, saat ini tercatat 38 peserta resmi mengikuti kursus. Dua kuota tersisa terkendala jadwal libur luar kota beberapa guru internal. Kelancaran manajemen finansial dan logistik acara ini dikawal ketat oleh Radipan selaku Bendahara Kegiatan yang dinilai gigih mempersiapkan fungsional anggaran.

KMD Mandiri ini menerapkan kurikulum komprehensif total 72 jam pelajaran yang dibagi menjadi dua fase:

• Fase Teori (Selasa s.d. Kamis): Pendalaman materi, tata upacara (perbedaan format Penggalang dan Penegak), serta metode pengujian Syarat Kecakapan Umum (SKU) secara akurat di lingkungan SMK YKTB.

• Fase Praktik Lapangan (Jumat s.d. Minggu): Berkemah dan simulasi riil di kawasan 3R Rancamaya, Bogor.

Menariknya, para guru calon pembina ini akan digembleng secara mandiri di lapangan. Seluruh logistik kendaraan menuju Rancamaya difasilitasi oleh panitia dengan titik kumpul di sekolah. Di lokasi perkemahan, para peserta diwajibkan mendirikan tenda Pramuka (kapasitas 5 orang) secara mandiri dari nol. Jika konstruksi dinilai tidak aman atau roboh, tim pelatih akan mengoreksi dan mewajibkan pemasangan ulang.

Tak hanya itu, untuk urusan konsumsi, panitia hanya mendistribusikan bahan mentah (natura) seperti beras dan sayur-mayur. Peserta dituntut bekerja sama memasak untuk kelompoknya melalui sistem piket (Korpiche).

Kusnadi menekankan, output utama dari KMD Mandiri ini adalah melahirkan pembina yang memiliki etos kerja tinggi dan jiwa kerelaan tulus membangun bangsa, mengingat dunia Pramuka didasari oleh sistem sukarela (volunteerism). Nilai bakti ini juga konsisten diterapkan YKTB, salah satunya saat menerjunkan armada sekolah untuk aksi kemanusiaan bencana longsor di Bandung beberapa waktu lalu.

Pasca-kegiatan, peserta wajib menyelesaikan Rencana Tindak Lanjut (RTL) dalam kurun waktu 6 bulan di bawah bimbingan Kwartir Ranting (Kwarran). Keberhasilan RTL akan mengantarkan mereka ke jenjang Kursus Mahir Lanjutan (KML) untuk mendapatkan spesialisasi golongan (Siaga, Penggalang, Penegak, atau Pandega).

"Lewat jenjang lanjutan, pembina akan mengantongi lisensi resmi berupa Hak Bina dan Hak Latih dari Kwartir Cabang (Kwarcab). Ini krusial, karena jika Pramuka ditangani oleh pembina yang salah atau tanpa lisensi, anak didik justru akan takut dan menjauh dari Pramuka," pungkasnya. (Zul)

BOGOR, lensafokus.id – Hukum seolah tak punya taring di hadapan para pengusaha tambang nakal. Meski Pemerintah Kecamatan Cariu telah melayangkan surat teguran resmi dengan nomor 600.4.8.5/254-Trantib pada Selasa (9/6/2026) untuk menghentikan total segala aktivitas, praktik lancung ini nyatanya masih melenggang bebas.

Proyek yang diduga kuat sebagai galian C ilegal di wilayah Bantar Kuning, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, kedapatan masih nekat beroperasi secara terang-terangan pada Minggu (5/7/2026).

IMG 20260705 WA0001

Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, instruksi hitam di atas putih dari pemerintah setempat sama sekali tidak diindahkan. Sebuah dump truck besar terlihat jelas sedang bebas beraktivitas di sekitar akses keluar masuk area tersebut, mengabaikan total volume larangan dari pihak berwenang.

Surat penertiban dari instansi kecamatan tampaknya hanya dianggap sebagai angin lalu oleh oknum pengelola galian C ilegal ini. Mereka disinyalir sengaja menutup mata demi terus meraup keuntungan pribadi di atas kerusakan lingkungan.

Pembiaran aktivitas ilegal yang terus berjalan menantang pasca-teguran resmi ini memicu pertanyaan besar sekaligus mosi tidak percaya di kalangan masyarakat.

Ketegasan pemerintah daerah dan nyali aparat penegak Perda kini benar-benar diuji di hadapan publik. Jika surat teguran resmi camat saja bisa dikangkangi dengan mudah oleh pengusaha tambang, lalu kepada siapa lagi masyarakat harus mengadu.

Dinas terkait dan Satpol PP Kabupaten Bogor segera turun ke lapangan untuk melakukan tindakan riil, bukan sekadar formalitas administratif berupa penyegelan total dan tindakan hukum pidana yang tegas. (Asp)

Page 1 of 45
Go to top