BOGOR, lensafokus.id - Kuasa hukum pemilik kawasan Palm Boko Bojong Koneng, Damai Hari Lubis (DHL), secara resmi melaporkan PT Sentul City ke Ditreskrimum Polda Jawa Barat.
Hal tersebut merupakan buntut aksi penyerobotan lahan milik kliennya Ozzy Sudiro di blok 025 Kampung Cikeas, RT 02/RW 10, Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, oleh alat berat suruhan PT Sentul City sejak Kamis (17/09/2026) hingga pekan ini.
"Sebagai warga negara yang taat hukum, pelaporan polisi telah kami tempuh di Ditreskrimum Kepolisian Daerah Jawa Barat, jadi beradu bukti nanti di pengadilan bukan di meja tim legal Sentul City," kata DHL, Selasa (29/09/2026).
Pelaporan kepolisian yang dilakukan warga yang tergabung dalam Forum Masyarakat Sentul (FORMAS) itu juga meminta dukungan element penegak hukum lainnya untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap aksi-aksi penyerobotan lahan dan ancaman yang dilakukan Sentul City selama ini.
"Jadi pelaporannya soal adanya upaya pemerasan disertai ancaman dan penyerobotan/perusakan lahan milik masyarakat," tandasnya.

Sementara itu, kuasa pengelolaan lahan Palm Boko, Pepen Efendi mengatakan, pelaporan dugaan tindak pidana pemerasan dan perusakan lahan lahan yang selama ini diamanatkan kepada dirinya selaku penduduk asli Desa Bojong Koneng, telah diterima jajaran Ditkrimum Polda Jabar.
"Pelaporan nomor: LP/B/1765/IX/2026/SPKT/Polda Jabar tanggal 19 September 2026 dan sudah ditindak lanjuti dengan diterbitkannya Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) nomor 1375. Tanggal 30 September ini saya akan sertakan semua bukti-bukti berkaitan dengan perkara tersebut kepada jajaran Ditkrimum Polda Jabar," ungkap Pepen.
Ozzy Sudiro menambahkan, sejak kisruh penyerobotan lahan miliknya berlangsung dan disorot media, banyak warga lain yang menjadi korban Sentul City angkat bicara dan siap berjuang.
"Banyak yang kemudian menyampaikan fakta-fakta yang terjadi kepada kami, jadi pola mereka itu seperti memeras masyarakat. Kalau tidak membayar ya buldoser yang turun," papar Ozzy.
Ozzy Sudiro juga menolak ajakan tim legal Sentul City yang memintanya datang ke kantor. Menurutnya, Sentul City menempatkan diri mereka sebagai penguasa dan penindas.
"Mereka pikir mereka siapa, datang tak diundang, main serobot dan merusak lahan milik orang lain, lalu seenaknya suruh kami datang menghadap. Ini ciri Feodal yang arogansi menindas dan merendahkan martabat masyarakat. Irooninya, Sentul City menggunakan segala cara dengan melibat oknum, mulai dari tokoh, aparat hingga perangkat desa yang bermental jongos untuk mengadu domba kepada masyarakat," tandasnya.
Sebelumnya, PT Sentul City dalam siaran pers tim legal kepada sejumlah media yang telah dikontrak kerjasama menyebutkan, siap membuka ruang dialog dan melakukan pencocokan data bersama pihak yang merasa keberatan.
Sentul City juga menyatakan memiliki basis data aset serta dokumen terkait kepemilikan dan riwayat penguasaan lahan yang menjadi dasar aktivitas di lokasi tersebut.
Tim Legal PT Sentul City Tbk, Farhan, mengatakan perusahaan terbuka untuk melakukan verifikasi bersama dengan warga maupun kuasa hukumnya.
“Kami sangat terbuka kepada Saudara Ozzy maupun kuasa hukumnya untuk duduk bersama, berkomunikasi, dan berdiskusi secara konstruktif. Perusahaan memiliki basis data dan kelengkapan berkas atas dasar penyelesaian yang sah sejak lama,” ujar Farhan dalam keterangannya, Jumat (18/09/2026).

Menurut Farhan, pencocokan dokumen secara langsung diperlukan agar persoalan dapat dilihat berdasarkan data dan fakta hukum yang dimiliki masing-masing pihak.
Ia mengimbau seluruh pihak mengedepankan iktikad baik serta menempuh proses klarifikasi melalui mekanisme yang terbuka.
“Tidak perlu ragu, tinggal datang saja kepada kami untuk saling kroscek data secara transparan,” kata Farhan dikutip dari sejumlah media lokal.
Sementara itu, pantauan di lokasi, sejumlah alat berat tampak tetap beroperasi. Selain itu, sejumlah dump truk hilir mudik mengangkut tanah dari kawasan Cijayanti.
"Pengangkutan tanah sejak hari Minggu, ada puluhan truk angkut tanah dari Cijayanti dibawa kesini," ujar, warga setempat. (Red)
KOTA BOGOR, lensafokus.id — Pemerintah Kecamatan Tanah Sareal mematangkan berbagai persiapan untuk menyambut kunjungan kerja delegasi Pemerintah Pakistan bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). Kunjungan internasional yang dijadwalkan berlangsung pekan ini tersebut akan berfokus pada studi tiru program pelayanan Keluarga Berencana (KB) serta manajemen pengendalian jumlah penduduk.
Camat Tanah Sareal, Rokib, mengungkapkan bahwa pusat studi banding antarnegara tersebut dipusatkan di Kampung Tematik Kebon Pedes. Lokasi ini dinilai ideal karena memiliki kesamaan karakteristik geografis dan demografis, serta telah lolos seleksi di tingkat kota dan Provinsi Jawa Barat untuk maju ke tingkat nasional.
Dalam pemaparannya, Rokib menguraikan perkembangan wilayah Tanah Sareal sebagai kecamatan termuda di Kota Bogor. Memiliki luas 20,60 kilometer persegi, kecamatan ini dihuni oleh sekitar 239 ribu jiwa yang tersebar di 11 kelurahan dengan dinamika akulturasi budaya Betawi dan Sunda Bogor.
Kendati tumbuh pesat sebagai pusat pertumbuhan baru akibat urbanisasi, tantangan sosial seperti penanganan lebih dari 13 ribu warga miskin ekstrem tetap menjadi fokus utama melalui pemutakhiran data desil secara bertahap.
Di bidang tata kelola pemerintahan, Tanah Sareal menorehkan prestasi gemilang, di antaranya: memimpin persentase Identitas Kependudukan Digital (IKD) tertinggi di Kota Bogor, masuk dalam tiga besar terbaik nasional/daerah dalam penilaian pelayanan dan tupoksi pada 2025.
Tiga Program Inovasi Unggulan: Nguriling Lembur (pelayanan jemput bola dan Jumat Berbagi), Santuy (penataan PKL humanis dengan Sentra Kuliner resmi), Wasdalbang (pengawasan pembangunan melibatkan RT/RW).
Memasuki periode pembangunan 2026–2027, sejumlah proyek besar disiapkan di wilayah Tanah Sareal, mulai dari pembangunan SMAN baru di Kelurahan Kayumanis, perencanaan rumah sakit, hingga proyek infrastruktur lalu lintas.
Terkait perlintasan Kebon Pedes, Rokib mengonfirmasi adanya perubahan konsep dari rencana awal underpass menjadi pembangunan jembatan layang (flyover) yang ditargetkan mulai dikerjakan pada 2027. Skema ini dinilai lebih efisien dari segi anggaran, mengingat kontur tanah yang labil serta efisiensi pembebasan lahan yang rencananya dikerjakan bersama PT KAI dengan konsep menyerupai Flyover R.E. Martadinata.
Sementara itu, untuk proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kayumanis, pengerjaan saat ini masih berfokus pada pembukaan akses jalan dan cut and fill akibat kontur tanah yang cukup berat dengan beda ketinggian mencapai lebih dari 10 meter.
Menutup keterangannya, Rokib turut mengklarifikasi isu pemekaran wilayah yang sempat beredar di media massa. Ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada arahan atau petunjuk teknis resmi dari pemerintah pusat maupun instansi berwenang terkait wacana pemekaran maupun penggabungan wilayah di Tanah Sareal. (Zulfi kusuma)
BOGOR, lensafokus.id — Dinas Arsip dan Perpustakaan (Diarpus) Kota Bogor menggelar forum strategis bertema "Sinergi, Literasi, dan Apresiasi: Bersama Media Menguatkan Perpustakaan dan Kearsipan" di Auditorium Bima Arya, Perpustakaan dan Galeri Kota Bogor, Senin (28/9/2026).
Kegiatan yang diinisiasi bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Bogor ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus ruang sosialisasi program layanan publik di bidang perpustakaan dan kearsipan daerah.
Kepala Diarpus Kota Bogor, Taufik, menegaskan bahwa peran insan pers sangat krusial dalam memperluas jangkauan informasi. Kolaborasi ini diharapkan membuat fasilitas dan program literasi pemerintah dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas.
"Kami sangat berterima kasih difasilitasi oleh Diskominfo. Kami ingin teman-teman media ikut menginformasikan program-program perpustakaan agar semakin dikenal dan dimanfaatkan masyarakat," ujar Taufik dalam sambutannya.
Dalam pemaparannya, Taufik membeberkan sejumlah keunggulan fasilitas yang dikelola Diarpus Kota Bogor:
• Koleksi & Prestasi: Mengelola sekitar 80.862 eksemplar buku dengan belasan ribu judul. Institusi ini juga pernah meraih predikat sebagai perpustakaan terbaik kedua di Jawa Barat pada akhir 2022.
• Jam Operasional Fleksibel: Buka tujuh hari seminggu—Senin hingga Kamis pukul 08.00–18.00 WIB, serta Sabtu dan Minggu pukul 08.00–16.00 WIB—dengan rata-rata kunjungan harian mencapai ratusan orang.
• Jangkauan Luas: Mengoperasikan tiga unit armada perpustakaan keliling yang melayani 220 Sekolah Dasar (SD) di seluruh Kota Bogor, serta menyediakan lima titik baca digital di ruang publik seperti Taman Sempur.
• Program Literasi: Rutin menggelar Pemilihan Duta Baca dan pelatihan mendongeng bagi tenaga pengajar untuk membangun karakter anak sejak dini.
Selain literasi, Diarpus Kota Bogor mengemban mandat tata kelola kearsipan daerah, mulai dari arsip dinamis kedinasan hingga arsip statis bersejarah rekam jejak kepemimpinan daerah.
Guna menjaga dokumen bernilai sejarah tinggi, Diarpus menerapkan standardisasi khusus seperti pengaturan suhu ruangan konstan, fumigasi berkala, akselerasi digitalisasi surat-menyurat di seluruh Perangkat Daerah (PD), serta penyediaan Depo Arsip berkapasitas hingga 100 ribu dokumen.
Sebagai bentuk keterbukaan, Diarpus juga mempersilakan masyarakat, komunitas, hingga insan pers untuk memanfaatkan fasilitas Auditorium Bima Arya berkapasitas 80 hingga 100 kursi secara gratis untuk kegiatan diskusi maupun pertemuan mitra kerja.
Melalui kemitraan strategis bersama PWI Kota Bogor ini, Diarpus optimis indeks literasi masyarakat akan terus terdongkrak, sejalan dengan penguatan transparansi informasi sejarah dan kearsipan daerah. (Zulfi kusuma)
KAPUAS HULU, lensafokus.id — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Kapuas Hulu sepanjang 2026 menjadi peringatan bahwa penanganan kebakaran tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah membesar.
Kompleksitas persoalan, mulai dari kekeringan, kondisi ekologis, keterbatasan akses, aktivitas ekonomi, hingga perilaku masyarakat, menunjukkan perlunya strategi pencegahan yang lebih terintegrasi, terutama menghadapi potensi periode El Niño berikutnya.
Hasil sosialisasi dan penyuluhan Karhutla di Kapuas Hulu menemukan sejumlah persoalan sekaligus rekomendasi yang dapat menjadi bahan evaluasi pemerintah dan masyarakat.
Kapuas Hulu memiliki karakter wilayah yang sangat didominasi kawasan hutan dan konservasi. Berdasarkan data yang dihimpun dalam kegiatan tersebut, sekitar 55,50 persen wilayah merupakan taman nasional dan hutan lindung, 21,69 persen lahan pertanian, 19,52 persen hutan produksi, 2,42 persen lahan pertambangan, serta 0,59 persen berupa sungai dan danau.
Kondisi geografis tersebut membuat pendekatan penanganan Karhutla harus disesuaikan dengan karakter wilayah dan pola kehidupan masyarakat setempat.

Salah satu persoalan yang ditemukan adalah penurunan muka air Sungai Kapuas saat musim kering.
Kondisi tersebut dapat menghambat kapal pengangkut bahan bakar minyak (BBM), sehingga distribusi BBM tidak selalu berjalan tepat waktu. Dampaknya ikut dirasakan dalam mobilitas kegiatan penanganan kebakaran.
Namun, persoalan distribusi BBM tersebut masih membutuhkan kajian lebih lanjut, termasuk mengenai pola penggunaan BBM dan kemungkinan adanya kebutuhan lain dalam jumlah besar yang turut memengaruhi ketersediaan bagi masyarakat.
Di sisi lain, sejumlah titik api berada di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Kondisi geografis ini menjadi tantangan tersendiri bagi petugas pemadam.
Dalam situasi tertentu, kebakaran bahkan lebih banyak berhenti setelah api padam secara alami karena sulitnya akses menuju lokasi.
Temuan lapangan juga menunjukkan bahwa praktik pembakaran lahan memiliki latar belakang yang berbeda.
Bagi sebagian peladang, pembakaran merupakan bagian dari praktik pembukaan lahan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga dalam skala terbatas. Praktik tersebut memiliki aturan dan ketentuan daerah yang harus dipatuhi.
Persoalan menjadi lebih kompleks ketika pembakaran diduga berkaitan dengan pembukaan atau perluasan perkebunan sawit.
Karena itu, diperlukan penelitian dan pendataan yang lebih mendalam agar penanganan tidak menyamaratakan seluruh praktik pembakaran lahan.
Pembedaan antara pembukaan ladang masyarakat dengan aktivitas pembukaan lahan untuk kepentingan usaha menjadi penting agar kebijakan pencegahan dan penegakan aturan dapat dilakukan berdasarkan fakta lapangan.
Tanpa data yang kuat, perdebatan mengenai sumber kebakaran berpotensi berhenti pada saling tuding. Penelitian yang lebih mendalam dibutuhkan untuk mengetahui pola, penyebab, lokasi, serta pihak yang bertanggung jawab dalam setiap peristiwa kebakaran.

Dalam kegiatan lapangan ditemukan sejumlah tampungan air yang mengering serta lapisan tanah berpasir. Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena pengeringan gambut dapat meningkatkan risiko api bertahan di bawah permukaan ketika terjadi kebakaran.
Karakter angin yang cukup kuat juga dapat memperluas penyebaran material pembakaran ke wilayah sekitar.
Yang tidak kalah penting, kawasan Danau Sentarum memiliki ekosistem gambut yang disebut dalam materi kegiatan sebagai kawasan gambut purba dengan perkiraan usia sekitar 46.000–49.000 tahun dan kedalaman mencapai sekitar 18 meter.
Jika data usia tersebut merujuk pada penelitian ilmiah yang relevan, kawasan ini memiliki nilai penting dari sisi ekologis sekaligus sejarah lingkungan. Karena itu, setiap kebakaran di kawasan gambut tersebut perlu dipandang sebagai risiko terhadap aset ekologis yang tidak mudah dipulihkan.
Temuan lain muncul dari sejumlah desa yang menolak keberadaan perkebunan sawit. Di wilayah tersebut tidak ditemukan kebakaran dalam skala besar berdasarkan temuan lapangan yang disampaikan.
Kondisi tersebut dapat menjadi bahan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara pola penggunaan lahan, pilihan ekonomi masyarakat, dan risiko kebakaran.
Di tingkat masyarakat adat, sejumlah aturan pembatasan pembakaran sebenarnya telah diterapkan. Namun, persoalan muncul ketika masyarakat tidak melaporkan rencana pembukaan lahan kepada pemerintah desa.
Akibatnya, pemerintah desa kesulitan melakukan antisipasi, terutama jika lokasi pembukaan lahan berada jauh dari permukiman.
Hal ini menunjukkan pentingnya sistem pelaporan yang mudah dan cepat sehingga rencana pembukaan lahan dapat diketahui lebih awal dan langkah pencegahan dapat dilakukan.
Perizinan perkebunan berada pada pemerintah pusat melalui kementerian terkait. Kondisi tersebut membuat kewenangan inspeksi terhadap kesiapan perusahaan dalam menghadapi Karhutla juga berkaitan dengan kewenangan pemerintah pusat.
Di sisi lain, pemerintah daerah tetap memiliki tanggung jawab dalam penanggulangan kebakaran di wilayahnya.
Karena itu, diperlukan pembagian peran dan sistem pengawasan bersama yang lebih jelas antara pemerintah pusat dan daerah, khususnya menjelang periode kering berikutnya.
Salah satu rekomendasi yang mengemuka adalah penguatan fungsi Kapuas Hulu sebagai kawasan tangkapan air atau “bank air”.
Sebagai wilayah hulu Sungai Kapuas, pengelolaan air menjadi penting untuk menghadapi dua kondisi ekstrem sekaligus: banjir ketika curah hujan tinggi dan kekeringan saat musim kemarau panjang.
Konsep tersebut dapat dilakukan melalui pengelolaan cekungan air, perbaikan dan pendalaman saluran irigasi, serta pengaturan tata air untuk menjaga kelembapan lahan gambut.
Pengelolaan air juga dapat memberikan manfaat ganda, mulai dari mengurangi risiko kekeringan gambut, mendukung transportasi, hingga membantu pemenuhan kebutuhan pertanian sepanjang tahun.
Dengan pengelolaan yang tepat, potensi lahan pertanian juga dapat dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat.
Karhutla merupakan ancaman yang berulang di Kalimantan Barat. Karena itu, pendidikan masyarakat tidak dapat dilakukan hanya ketika musim kebakaran tiba.
Program edukasi perlu diarahkan pada perubahan pengetahuan dan perilaku, termasuk memperkenalkan metode pengelolaan lahan yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap pembakaran.
Masyarakat juga membutuhkan alternatif untuk meningkatkan produktivitas dan memperoleh sumber pangan tanpa meningkatkan risiko kebakaran.
Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu juga direkomendasikan mengembangkan layanan informasi digital terintegrasi yang mudah diakses melalui telepon seluler.
Layanan tersebut dapat memuat informasi cuaca, musim tanam, peternakan, perdagangan, pengaduan cepat, hingga materi edukasi pencegahan Karhutla.
Informasi cuaca dapat membantu masyarakat menentukan waktu tanam dan aktivitas pertanian. Sementara layanan pengaduan dapat mempercepat pelaporan potensi kebakaran maupun gangguan pelayanan publik.
Penguatan infrastruktur juga menjadi bagian penting dalam menghadapi musim kering.
Pemerintah perlu menyiapkan alternatif distribusi BBM ketika kondisi Sungai Kapuas mengalami pendangkalan dan transportasi sungai terganggu.
Perluasan jaringan listrik dan internet juga penting untuk mempercepat distribusi informasi, memperluas akses edukasi, serta membuka jalur pengaduan masyarakat di wilayah yang sulit dijangkau.
Kapuas Hulu sendiri memiliki potensi besar yang tidak hanya berasal dari sumber daya alam, tetapi juga dari ekosistem sungai, hutan, perikanan, gambut dan bentang alamnya.
Posisinya yang berbatasan langsung dengan Malaysia juga membuat penguatan sumber daya manusia, infrastruktur, dan ekonomi masyarakat menjadi bagian penting dari pengelolaan wilayah perbatasan.
Rangkaian temuan tersebut menunjukkan bahwa mitigasi Karhutla di Kapuas Hulu perlu bergeser dari pendekatan reaktif menuju pencegahan yang terintegrasi.
Pemetaan kawasan tangkapan air, pengelolaan gambut, kesiapan perusahaan, alternatif distribusi BBM, edukasi masyarakat, sistem informasi digital, penguatan infrastruktur, serta koordinasi kewenangan pemerintah pusat dan daerah perlu disiapkan sebelum musim kering tiba.
Karhutla bukan semata persoalan api. Di baliknya terdapat persoalan tata kelola air, penggunaan lahan, akses wilayah, ekonomi masyarakat, kesiapan infrastruktur, hingga kualitas informasi.
Bogor, lensafokus.id — Aktivitas pengolahan emas yang diduga kuat tak mengantongi izin alias ilegal masih bebas beroperasi di Kampung Citugu, Desa Puraseda, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Pengolahan material tambang tersebut disinyalir berada di bangunan milik warga berinisial N.
Pantauan di lokasi menunjukkan keberadaan sejumlah mesin gelundung berukuran besar di dalam bangunan sederhana. Mesin-mesin tersebut terus beroperasi memutar batuan yang diduga mengandung bulir emas.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, proses pengolahan batuan tersebut memanfaatkan bahan kimia berbahaya jenis merkuri dan sianida. Setelah melewati proses pemisahan, material dialiri suhu tinggi menggunakan alat las hingga membentuk emas mentah (dore).
Penggunaan zat kimia beracun seperti sianida dan merkuri tanpa standar keamanan yang jelas menjadi ancaman serius bagi warga sekitar. Tanpa sistem pengolahan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang memadai, limbah cair pengolahan emas ini berpotensi besar mencemari struktur tanah, aliran sungai, hingga sumber air bersih masyarakat Desa Puraseda.
Lumpuhnya pengawasan di lapangan juga memicu tanda tanya besar. Warga mendesak aparat penegak hukum (APH) serta dinas terkait untuk tidak menutup mata dan segera menindak tegas kegiatan yang mengancam ekosistem tersebut.
"Aparat dan dinas terkait harus segera turun tangan memeriksa legalitas lokasi dan dampak pencemaran air warga sebelum jatuh korban," tegas warga setempat yang enggan disebutkan namanya.
Terancam Pidana Tambang Ilegal dan Lingkungan
Secara hukum, praktik pengolahan emas tanpa izin melanggar Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba). Pelaku dapat dijerat sanksi pidana penjara serta denda yang signifikan.
Selain itu, potensi pembuangan limbah beracun sembarangan juga melanggar Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Hingga berita ini diturunkan, pemilik lokasi berinisial N belum memberikan keterangan resmi. Tim redaksi masih terus berusaha meminta konfirmasi dan tindakan nyata dari Polres Bogor, Polsek Leuwiliang, serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor. (Tim)
BOGOR, lensafokus.id - Pemerintah Kota Bogor melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (BAPPERIDA) Kota Bogor kembali menggelar Bogor Innovation Award (BIA) 2026 pada 8–9 September 2026 untuk mengakselerasi hilirisasi ide kreatif dan pelayanan publik di daerah.
Mengusung tema “SPARK YOUR IDEA: Innovation and Collaboration Empowering The Future”, ajang tahunan ini memamerkan lebih dari 63 inovasi unggulan sekaligus menargetkan sedikitnya 10 karya dapat langsung diadopsi sebagai pilot project di lingkungan Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Festival inovasi ini menghadirkan pameran yang menampilkan lebih dari 63 inovasi dari kalangan pelajar, mahasiswa, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), hingga masyarakat umum. Bidang yang dipamerkan mencakup sektor teknologi, pelayanan publik, lingkungan, ekonomi kreatif, dan sosial.
Kepala BAPPERIDA Kota Bogor, Anne Dewiana Rilianti, menyampaikan bahwa pameran ini merupakan ruang untuk membuktikan luasnya potensi gagasan kreatif di Kota Bogor.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Bogor tidak kekurangan ide. Lewat pameran ini, kami berharap lahir kolaborasi nyata. Inovasi yang tadinya hanya prototype bisa diadopsi OPD dan direplikasi untuk melayani masyarakat,” ujar Anne Dewiana Rilianti, Selasa (8/9/2026).
Anne menegaskan, fokus utama BIA 2026 bukan sekadar memamerkan karya, melainkan mendorong hilirisasi agar ide-ide tersebut dapat langsung diterapkan di lapangan. Sedikitnya 10 inovasi ditargetkan menjadi pilot project di perangkat daerah dan memperkuat Indeks Inovasi Daerah Kota Bogor.
Selain pameran teknologi dan pelayanan publik, BIA 2026 turut menggelar Kompetisi Bakat dengan lima kategori: fotografi bertema “Bogor Berinovasi”, menyanyi solo, tari tradisional, tari modern, dan cosplay. Babak final diikuti oleh 122 peserta terpilih dari berbagai sekolah, sanggar, dan komunitas se-Kota Bogor.
Menurut Anne, kemajuan suatu daerah harus ditopang oleh keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kekayaan budaya.
“Kota yang maju bukan hanya cerdas secara teknologi, tapi juga kaya budaya dan kreatif. Kompetisi ini adalah panggung bagi anak-anak muda Bogor untuk SPARK YOUR TALENT,” jelasnya.
Penyelenggaraan BIA 2026 mencatatkan lonjakan antusiasme masyarakat. Jumlah pendaftar tahun ini mencapai 373 inovasi, meningkat pesat dari tahun sebelumnya yang mencatat 230 inovasi. Dari total tersebut, sebanyak 184 inovasi berhasil lolos penjaringan di berbagai kategori.
Untuk memastikan kualitas dan kelayakan implementasi, seluruh peserta melewati tahapan seleksi substansi, validasi lapangan, hingga presentasi dan wawancara di hadapan tim juri profesional.
Adapun juri BIA 2026 melibatkan pakar lintas sektor, antara lain Prof. Dr. Ir. Tri Partono, M.Sc. (LKST IPB), Irwan Budhi Iswanto (BRIN), Nuril Fikri Aulia (BSKDN Kemendagri), Ira Nihrawati AS (CEO Radar Bogor), dan Henny Nurliany (Staf Ahli Walikota Bogor).
Pelaksanaan BIA 2026 diproyeksikan memberikan dampak menyeluruh, mulai dari peningkatan partisipasi warga, penguatan budaya kreatif ASN dan pelajar, hingga mendukung penyelesaian isu strategis daerah di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, transportasi, pangan, dan sosial sesuai visi “Bogor Beres, Bogor Maju”.
Selama dua hari penyelenggaraan, BIA 2026 menargetkan dapat menyedot 2.500 hingga 3.000 pengunjung. Warga masyarakat dapat hadir secara gratis untuk menikmati pameran inovasi, mengikuti workshop, talkshow interaktif bersama praktisi, hingga hiburan musik. (Zulfi Kusuma)