TANGERANG, lensafokus.id – Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid bersama komunitas jurnalis yang tergabung dalam Jaringan Jurnalis Peduli Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tangerang, PT Indah Kiat Pulp & Paper, melakukan penanaman 10.000 batang mangrove di kawasan Ketapang Urban Aquaculture (KUA), Kecamatan Mauk, Rabu (10/06/26).
Pada kesempatan itu, Bupati Maesyal Rasyid mengapresiasi peran aktif para jurnalis yang tidak hanya menjalankan fungsi menyebarkan informasi publik, tetapi juga turut mengambil bagian dalam aksi nyata pelestarian lingkungan dengan aksi penanaman 10 ribu batang mangrove di KUA
"Kami bersama Dinas Lingkungan Hidup, PT Indah Kiat, teman-teman wartawan dari Jaringan Peduli Lingkungan, menanam 10.000 batang mangrove di Desa Ketapang, Kecamatan Mauk. Ini adalah bentuk kepedulian bersama terhadap lingkungan dan bukti nyata kolaborasi yang terus terjalin antara pemerintah, swasta, komunitas, dan insan pers," ujar Bupati Maesyal Rasyid
Menurutnya, penanaman mangrove memiliki manfaat yang sangat besar bagi kawasan pesisir. Selain berfungsi untuk menahan abrasi pantai, mangrove juga berperan dalam meningkatkan kualitas udara, menjaga keseimbangan ekosistem, serta menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi masyarakat sekitar.
"Manfaat mangrove sangat banyak. Yang pertama dapat menahan abrasi, kemudian menghasilkan oksigen yang baik bagi kualitas udara, mendukung penghijauan, serta memberikan dampak positif bagi kesehatan masyarakat. Karena itu, program seperti ini harus terus kita lanjutkan dan perkuat," ujarnya.
Ia menambahkan, keberadaan hutan mangrove yang tumbuh dan berkembang dengan baik juga dapat menjadi daya tarik wisata baru di kawasan pesisir Kabupaten Tangerang. Salah satunya adalah Ketapang Urban Aquaculture yang memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata edukasi lingkungan dan mampu menarik kunjungan masyarakat dari berbagai daerah.
"InsyaAllah jika mangrove ini tumbuh subur dan semakin banyak, kawasan ini akan semakin hijau dan menarik. Ini bisa menjadi daya tarik bagi pengunjung dari luar Kabupaten Tangerang untuk datang dan menikmati destinasi Ketapang Urban Aquaculture di Kecamatan Mauk," ungkapnya.
Pihaknya pun menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam kegiatan tersebut, khususnya PT Indah Kiat, Jaringan Jurnalis Peduli Lingkungan, serta seluruh relawan dan masyarakat yang terlibat.
"Atas nama Pemerintah Kabupaten Tangerang, kami mengucapkan terima kasih kepada PT Indah Kiat, teman-teman wartawan yang peduli terhadap lingkungan, dan seluruh pihak yang telah berpartisipasi. Semoga kolaborasi ini terus berlanjut demi mewujudkan lingkungan pesisir yang lebih hijau, sehat, dan berkelanjutan," pungkasnya. (Red)
TANGERANG, lensafokus.id – RSUD Tigaraksa terus memperkuat komitmennya dalam mendukung pelayanan kesehatan masyarakat, Melalui agenda rutin, rumah sakit milik pemerintah daerah ini kembali menggelar aksi donor darah bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI). Kegiatan tersebut berlangsung di Lantai 1 RSUD Tigaraksa, Rabu (10/6/2026).
Dalam Kesempatan tersebut, Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD Tigaraksa, dr. Elni Handayani, menyatakan bahwa aksi ini merupakan langkah konkret manajemen dalam merespons tingginya kebutuhan darah di berbagai fasilitas kesehatan.
"Kegiatan donor darah ini merupakan agenda rutin dari RSUD Tigaraksa yang diselenggarakan setiap dua bulan sekali. Tujuannya adalah sebagai langkah nyata kami dalam mendukung pelayanan kesehatan, khususnya untuk menjaga ketersediaan dan memenuhi kebutuhan stok darah bagi masyarakat di Kabupaten Tangerang," ujar dr. Elni.
Menariknya, aksi sosial ini tidak hanya menyasar pegawai Pemerintah Kabupaten Tangerang, tetapi juga dibuka lebar bagi masyarakat umum. Pihak manajemen bahkan telah melakukan sosialisasi masif jauh-jauh hari agar gerakan kemanusiaan ini bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Melihat urgensi pemenuhan stok darah yang dinamis, dr. Elni berharap angka partisipasi masyarakat dapat terus meningkat pada pelaksanaan-pelaksanaan berikutnya.
"Harapan kami ke depan adalah semakin banyak peserta yang ikut berpartisipasi. Kami juga mengajak dan mengimbau masyarakat untuk ikut serta, karena informasi mengenai kegiatan ini sudah disebarluaskan secara luas. Semoga dari waktu ke waktu, antusiasme warga yang berperan serta terus meningkat," tuturnya.
Lebih lanjut, dr. Elni memaparkan bahwa donor darah merupakan aksi kemanusiaan yang memberikan dampak positif timbal balik (win-win solution), baik bagi penerima (resipien) maupun bagi pendonor itu sendiri.
Dari sudut pandang medis, donor darah dapat membantu mengoptimalkan sirkulasi darah. Selain itu, proses ini merangsang sumsum tulang untuk memproduksi sel-sel darah merah baru sehingga regenerasi darah berlangsung lebih efektif.
"Tentu saja, kegiatan ini memberikan manfaat ganda. Bagi para pendonor, ini adalah momen untuk berbagi tanpa merasa dirugikan. Secara medis, donor darah justru membuat tubuh menjadi lebih sehat karena dapat memicu proses pembentukan sel-sel darah baru secara lebih cepat," jelasnya.
Ia menutup penjelasannya dengan menegaskan bahwa misi utama dari agenda rutin ini adalah menciptakan keseimbangan antara kesehatan individu dan kepedulian sosial di Kabupaten Tangerang.
"Jadi, tujuan kegiatan ini mencakup dua hal: memberikan manfaat kesehatan bagi pribadi pendonor, sekaligus membantu masyarakat yang sedang membutuhkan pasokan darah," pungkasnya.
Manfaat nyata dari donor darah ini turut dirasakan oleh salah satu warga Kelurahan Kadu Agung, Asmiati, yang hadir sebagai pendonor. Ia menuturkan bahwa kegiatan ini menjadi pengalaman rutin yang sudah beberapa kali ia ikuti.
"Tujuan saya rutin mengikuti kegiatan donor darah ini adalah untuk menjaga agar sirkulasi darah di dalam tubuh tetap berjalan dengan lancar, sekaligus berharap setetes darah yang saya donorkan dapat membantu menyelamatkan nyawa orang lain," ungkapnya.
Ia mengaku selalu merasakan efek positif pada tubuhnya pasca-donor seperti tubuh selalu terasa fit dan segar dan badan terasa lebih enak dan terasa ringan. Kesadaran ini membuatnya berkomitmen untuk selalu hadir setiap ada undangan donor darah.
"Saya sudah melakukan donor darah sebanyak enam kali. Jumlah tersebut belum termasuk riwayat donor sebelum saya menggunakan aplikasi," terangnya.
Pada pelaksanaan donor darah kali ini, antusiasme masyarakat dan pegawai cukup tinggi. Tercatat sebanyak 74 orang mendaftar sebagai pendonor. Dari jumlah tersebut, 63 orang berhasil mendonorkan darahnya, sementara 11 orang lainnya ditunda atau tidak dapat mendonor karena belum memenuhi persyaratan medis, seperti kadar hemoglobin atau tekanan darah yang tidak sesuai standar. (Red)
Tangerang, lensafokus.id – Pemerintah Kabupaten Tangerang resmi membuka Seleksi Daerah Program Beasiswa Luar Negeri dalam skema Beasiswa Gemilang 2026 dengan kampus tujuan Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Seleksi wawancara tersebut diselenggarakan di Ruang Rapat Wareng, Gedung Bupati Tangerang, pada Rabu (10/06/2026).
Acara tersebut dibuka langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tangerang, Soma Atmaja. Program ini merupakan bentuk komitmen berkelanjutan Pemkab Tangerang dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan mempersiapkan generasi muda yang kompetitif di kancah internasional.
Dalam sambutannya, Sekda Soma Atmaja menjelaskan bahwa pada tahun anggaran 2026 ini, Pemerintah Kabupaten Tangerang menggelontorkan dana sebesar Rp22 miliar khusus untuk program Beasiswa Tangerang Gemilang. Pemerintah daerah juga berhasil mengoptimalkan daya tampung penerima beasiswa dari target awal 675 orang menjadi 976 mahasiswa.
"Total anggaran tersebut dialokasikan untuk membiayai mahasiswa yang tersebar di 35 perguruan tinggi, baik di dalam negeri maupun di Mesir, dengan rincian 424 mahasiswa baru, 497 mahasiswa ongoing yang saat ini sedang menempuh perkuliahan, dan 55 mahasiswa penerima bantuan tugas akhir/skripsi," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa, khusus untuk klaster keberangkatan Universitas Al-Azhar Kairo, terdapat lebih dari 50 peserta yang telah dinyatakan lolos seleksi kelayakan awal. Namun, karena keterbatasan kuota formasi, Pemkab Tangerang hanya akan memilih 25 peserta terbaik untuk diberangkatkan pada tahun ini.
"Hari ini kita menunggu hasil akhir seleksi untuk mengumumkan seluruh 976 penerima beasiswa secara terbuka kepada publik. Bagi anak-anakku yang belum beruntung hari ini, jangan berkecil hati karena masih ada kesempatan di tahun depan. Pegang teguh pepatah Labor Omnia Vincit bahwa kerja keras akan mengalahkan segalanya. Manfaatkan kesempatan emas ini dengan sebaik-baiknya untuk menyongsong Indonesia Emas dan Indonesia Maju 2045," jelas Soma Atmaja.
Soma Atmaja mengungkapkan dalam proses seleksi wawancara dirancang secara ketat untuk menguji kesiapan akademis, linguistik, dan spiritual para calon mahasiswa. Tim penguji memberikan instrumen penilaian mendalam mulai dari uji percakapan aktif bahasa Arab, kemampuan membaca sekaligus mengartikan kitab kuning, hingga kelancaran hafalan Al-Qur'an minimal 2 juz.
"Selain kompetensi keagamaan, Pemkab Tangerang juga menerapkan verifikasi faktual yang ketat terkait persyaratan kelayakan ekonomi. Hal ini dilakukan agar program beasiswa penuh tepat sasaran dan diprioritaskan bagi calon penerima berbakat yang berasal dari keluarga kurang mampu secara finansial," ungkapnya.
Di lokasi yang sama, salah satu peserta seleksi asal Kecamatan Jayanti, Nabila Wardani Haifurrahma, membagikan pengalamannya selama mengikuti proses penyaringan. Alumni Pondok Pesantren Modern Al-Mizan 3 ini menjelaskan bahwa dirinya harus melewati tahapan ujian di Kementerian Agama (Kemenag) terlebih dahulu sebelum mendaftarkan diri ke program Beasiswa Tangerang Gemilang.
Nabila mengungkapkan motivasi besarnya untuk bisa belajar langsung di universitas Islam tertua di dunia tersebut.
"Saya ingin sekali belajar bersama para ulama Al-Azhar. Bagi saya, Al-Azhar merupakan pusat dari moderasi dan keseimbangan dalam ajaran agama Islam. Harapan besar saya, semoga bisa lulus seleksi hari ini, dilancarkan studinya, sukses, dan kelak bisa membahagiakan kedua orang tua," tutur Nabila penuh harap. (Red)
Tangerang, lensafokus.id -- Wakil Bupati (Wabup) Tangerang, Intan Nurul Hikmah menegaskan bahwa lingkungan pendidikan harus bebas dari segala bentuk tindakan kekerasan. Hal tersebut diungkapkan Wabup Intan saat membuka acara sosialisasi Pencegahan Kekerasan terhadap Anak di Sekolah bagi Guru PAUD/TK di Kabupaten Tangerang, Rabu (10/06/26).
"Saya ingin menegaskan bahwa tidak boleh ada ruang bagi segala bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan. Kita harus memastikan sekolah benar-benar bebas dari segala bentuk kekerasan, baik kekerasan fisik, verbal, psikologis, perundungan maupun bentuk kekerasan lainnya," tegas Wabup Intan
Dalam sambutannya, dia menyebut bahwa kekerasan terhadap anak bukan hal yang remeh dan sepele. Bentakan, ejekan, atau kata-kata yang merendahkan dan perundungan dapat meninggalkan luka yang membekas dan mempengaruhi tumbuh kembang anak. Untuk itu, pendekatan yang mengedepankan kasih sayang, komunikasi yang positif, kesabaran, dan keteladanan harus menjadi budaya dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan usia dini
"Apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh guru hari ini akan melekat dalam ingatan anak-anak hingga mereka dewasa nanti. Karena itu saya meyakini bahwa guru bukan hanya pendidik, tetapi juga pelindung, pembimbing, sekaligus teladan bagi anak-anak kita," ujarnya
Dia juga menyoroti pentingnya peran strategis para guru PAUD dan TK yang sangat luar biasa. Guru PAUD dan TK merupakan salah satu pihak yang terlibat langsung dalam membentuk karakter anak pada masa emas pertumbuhannya. Untuk itu, kerja sama dan kolaborasi yang kuat menjadi kunci suksesnya pembangunan manusia seutuhnya
"Kerja sama dan kolaborasi dari semua pihak, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, dunia usaha, hingga seluruh pemangku kepentingan merupakan kunci keberhasilan pembangunan manusia seutuhnya. Bapak dan ibu guru merupakan salah satu garda terdepan dalam mewujudkan Kabupaten Tangerang Layak Anak," tandasnya
Lanjut dia, Pemerintah Kabupaten Tangerang memiliki komitmen kuat untuk mewujudkan Kabupaten Layak Anak. Dia juga mengajak seluruh guru PAUD dan TK di Kab. Tangerang untuk terus menguatkan sinergi dan kolaborasi secara aktif menjadikan sekolah sebagai rumah kedua yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi anak-anak.
"Mari kita jadikan sekolah sebagai rumah kedua yang aman dan menyenangkan bagi setiap anak. Ketika anak-anak tumbuh tanpa kekerasan, mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan bimbingan dengan penuh kasih sayang maka kita sedang menyiapkan generasi yang sehat, cerdas, berkarakter dan berdaya saing," imbuhnya
Kepala Dinas Pemberdayaan dan Perlindungan Anak (DP3A), Asep Suherman menjelaskan bahwa sosialisasi tersebut dikuti oleh para guru PAUD dan TK dari 29 kecamatan dengan menghadirkan narasumber dari Universitas Paramadina Jakarta dan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Provinsi Banten.
Pihaknya berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat yang nyata dalam meningkatkan kapasitas para pendidik sehingga mampu mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman dan bebas dari segala bentuk kekerasan terhadap anak.
"Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman, pengetahuan dan kapasitas guru PAUD dan TK dalam upaya mencegah, mengenali serta menangani berbagai bentuk kekerasan terhadap anak, mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif dan ramah anak sehingga proses tumbuh kembang anak dapat berlangsung secara optimal," jelas Asep. (Red)
LEBAK, lensafokus.id – Program Ketahanan Pangan (Ketapang) yang bersumber dari Anggaran Dana Desa Tahun 2025 di Kecamatan Panggarangan, Kabupaten Lebak, diduga raib. Pasalnya, bantuan ternak sapi yang seharusnya menjadi aset pemberdayaan masyarakat diduga raib dan bahkan disebut-sebut telah dijual oleh oknum kepala desa.
Informasi yang dihimpun menyebutkan dugaan tersebut terjadi di Desa Mekarjaya dan Desa Citrugen, Kecamatan Panggarangan. Program yang bertujuan memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan perekonomian masyarakat desa itu kini menuai tanda tanya besar.
Menurut sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan, bantuan ternak sapi dalam Program Ketahanan Pangan Desa Mekarjaya yang berasal dari Dana Desa Tahun 2025 diduga telah dijual.
"Untuk Desa Mekarjaya ada sekitar lima ekor sapi dengan nilai kurang lebih Rp70 juta yang diduga telah dijual oleh oknum kepala desa," ungkap sumber kepada wartawan.
Tak hanya Desa Mekarjaya, sumber tersebut juga menyebut dugaan serupa terjadi di Desa Citrugen. Program Ketahanan Pangan berupa ternak sapi yang dibiayai Dana Desa Tahun 2025 disebut-sebut tidak lagi berada di lokasi sebagaimana mestinya.
Jika dugaan tersebut benar, maka hal ini berpotensi menimbulkan kerugian terhadap program pemberdayaan masyarakat yang dibiayai menggunakan uang negara. Selain itu, masyarakat berhak mengetahui keberadaan aset desa yang dibeli dari Dana Desa dan diperuntukkan bagi kepentingan bersama.
Kepala Desa Mekarjaya, Sudirman, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp terkait keberadaan ternak sapi Program Ketahanan Pangan Tahun 2025 belum memberikan jawaban.
Sementara itu, Kepala Desa Citrugen, Iin, juga belum dapat dimintai keterangan. Upaya konfirmasi yang dilakukan melalui WhatsApp belum mendapat respons karena nomor yang bersangkutan tidak aktif.
Di tempat terpisah, Camat Panggarangan, Hendi, mengaku belum mengetahui secara rinci terkait pelaksanaan Program Ketahanan Pangan di kedua desa tersebut.
"Saya tidak mengetahui karena saya baru pindah tugas. Tapi untuk lebih jelasnya nanti saya akan menanyakan kepada Pak Ekbang," ujar Hendi saat dikonfirmasi melalui WhatsApp.
Mencuatnya dugaan hilangnya ternak sapi yang bersumber dari Dana Desa ini memicu perhatian masyarakat. Mereka berharap instansi terkait, baik tingkat kecamatan, kabupaten maupun aparat pengawas, segera melakukan pengecekan lapangan dan audit terhadap aset Program Ketahanan Pangan yang dibiayai dari Dana Desa Tahun 2025.
Pasalnya, program tersebut merupakan salah satu prioritas nasional yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, bukan untuk kepentingan pribadi pihak tertentu.
Hingga kini, keberadaan ternak sapi yang diduga raib tersebut masih menjadi misteri dan menunggu penjelasan resmi dari pihak-pihak terkait. (C2p)
CIANJUR, lensafokus.id – Kesabaran warga Kampung Cidadap, Desa Sukakerta, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, tampaknya telah mencapai batas. Setelah hampir satu dekade menanti pembangunan jembatan gantung yang tak kunjung terealisasi, jeritan mereka akhirnya meledak ke ruang publik melalui video yang viral di media sosial.
Video tersebut memperlihatkan realitas pahit yang setiap hari dihadapi warga. Di tengah derasnya aliran Sungai Cibuni, masyarakat masih harus mengandalkan rakit sederhana sebagai satu-satunya akses penyeberangan. Kondisi yang dinilai tidak manusiawi itu kini mengundang gelombang simpati sekaligus pertanyaan besar terhadap perhatian pemerintah terhadap daerah pelosok.
Dalam video yang beredar luas, warga memohon langsung kepada Gubernur Jawa Barat yang akrab disapa KDM atau "Bapak Aing" agar turun tangan menyelesaikan persoalan yang sudah bertahun-tahun membelenggu kehidupan mereka.
Bagi warga Cidadap, jembatan gantung bukan sekadar proyek pembangunan. Jembatan itu adalah harapan, keselamatan, dan masa depan.
Setiap hari, anak-anak sekolah harus menghadapi risiko saat menyeberang sungai. Ibu hamil dan warga yang sakit kesulitan mengakses layanan kesehatan. Para petani pun harus berjibaku membawa hasil panen melewati jalur yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi ancaman maut ketika hujan turun dan debit sungai meningkat.
Tokoh pemuda Kampung Cidadap, Bang Bang Suryana, mengungkapkan bahwa perjuangan masyarakat bukan baru dimulai kemarin. Sejak tahun 2017, berbagai proposal dan permohonan telah diajukan kepada pemerintah daerah.
"Kami sudah berjuang sejak tahun 2017. Tahun 2021 kami kembali mengajukan. Tahun 2023, 2024 sampai 2025 kami terus mendatangi dinas terkait dan memasukkan proposal. Tapi sampai hari ini belum ada realisasi pembangunan jembatan gantung yang kami harapkan," ungkapnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan panjangnya perjuangan warga yang seolah berjalan di tempat. Pergantian pejabat demi pejabat, kepala bidang demi kepala bidang, ternyata belum mampu melahirkan solusi nyata bagi kebutuhan masyarakat yang sangat mendesak.
Ironisnya, di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur di berbagai daerah, warga Cidadap masih harus bergantung pada rakit untuk menjalani aktivitas sehari-hari.
Kondisi ini memunculkan kekecewaan mendalam di kalangan masyarakat. Mereka mempertanyakan mengapa kebutuhan dasar yang menyangkut keselamatan warga belum juga menjadi prioritas.
Tak hanya pemerintah daerah, sejumlah warga juga menyoroti minimnya dorongan dari Pemerintah Desa Sukakerta dalam mengawal aspirasi masyarakat hingga ke tingkat kabupaten maupun provinsi.
"Kami hanya ingin diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai aspirasi yang sudah kami suarakan bertahun-tahun terus berakhir tanpa hasil," ujar seorang warga.
Bagi masyarakat Kampung Cidadap, keterlambatan pembangunan jembatan gantung bukan hanya soal tertundanya proyek fisik. Lebih dari itu, keterlambatan tersebut telah memperpanjang penderitaan warga yang setiap hari harus hidup berdampingan dengan risiko kecelakaan dan keterisolasian.
Kini, setelah video mereka viral dan menjadi perhatian publik, harapan baru kembali muncul. Warga berharap pemerintah tidak lagi sekadar mendengar, tetapi segera mengambil langkah konkret.
Sebab bagi masyarakat Cidadap, waktu terus berjalan. Sementara jembatan yang mereka impikan sejak 2017 masih sebatas harapan yang menggantung di atas derasnya Sungai Cibuni.
"Harapan kami sederhana. Kami hanya ingin menyeberang dengan aman. Kami ingin anak-anak berangkat sekolah tanpa rasa takut. Kami ingin jembatan yang sudah lama kami perjuangkan benar-benar dibangun," tutup warga penuh harap. (Asp)
KOTA TANGERANG, lensafokus.id – Kontingen Senam Gymnastic Kota Tangerang kembali menunjukkan kesiapannya menghadapi ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Provinsi Banten 2026. Sebanyak 13 atlet terbaik diberangkatkan menuju Kota Cilegon untuk berlaga pada kompetisi olahraga pelajar bergengsi tingkat Provinsi Banten yang akan berlangsung pada 12 hingga 14 Juni 2026.
Pelepasan kontingen dilakukan langsung oleh Ketua Senam Gymnastic Kota Tangerang, Sumarti, didampingi Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres) Heru serta Pelatih Senam Gymnastic, Suhenda.
Keberangkatan para atlet ini menjadi bukti komitmen Kota Tangerang dalam melakukan pembinaan olahraga pelajar, khususnya cabang Senam Gymnastic yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung medali dalam berbagai kejuaraan tingkat daerah maupun provinsi.
Ketua Senam Gymnastic Kota Tangerang, Sumarti, mengaku optimistis timnya mampu kembali mempertahankan tradisi prestasi dengan merebut gelar juara umum seperti pada penyelenggaraan POPDA sebelumnya.
"Dalam ajang POPDA ini kami siap mempertahankan gelar juara umum Senam Gymnastic seperti tahun-tahun sebelumnya. Atlet-atlet yang berangkat sudah dipersiapkan secara maksimal untuk bersaing di setiap nomor yang dipertandingkan dan kembali membawa pulang gelar juara umum tahun ini," ujar Sumarti usai melepas keberangkatan atlet.
Sementara itu, Binpres Heru menjelaskan bahwa persiapan kontingen telah dilakukan jauh hari melalui program latihan intensif, uji coba pertandingan, hingga pembinaan mental bertanding.

Menurutnya, 13 atlet yang diberangkatkan merupakan hasil seleksi ketat dan memiliki kemampuan terbaik di masing-masing nomor pertandingan.
"Anak-anak sudah kami tempa secara fisik, teknik, dan mental. Kami tidak hanya menargetkan medali, tetapi juga ingin menunjukkan bahwa pembinaan Senam Gymnastic di Kota Tangerang berjalan secara konsisten dan mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi," kata Heru.
Di sisi lain, Pelatih Senam Gymnastic Kota Tangerang, Suhenda, menegaskan bahwa kondisi para atlet saat ini berada dalam performa terbaik menjelang pertandingan.
Fokus latihan terakhir, kata dia, diarahkan pada penyempurnaan teknik, kerapihan gerakan, ekspresi artistik, serta meminimalisasi kesalahan-kesalahan kecil yang dapat memengaruhi penilaian juri.
"Kami meminta anak-anak tampil lepas namun tetap fokus. Penilaian juri pada POPDA sangat detail, sehingga setiap gerakan harus dilakukan dengan bersih dan sempurna. Target kami jelas, berusaha menguasai seluruh nomor yang dipertandingkan," tegas Suhenda.
POPDA Banten 2026 di Kota Cilegon tidak hanya menjadi ajang perebutan prestasi tingkat daerah, tetapi juga menjadi salah satu tahapan seleksi atlet pelajar menuju kompetisi tingkat nasional. (Sumarna)