Tangerang, lensafokus.id - Di bawah langit Bumi Perkemahan Cisoka, sejarah yang sempat terpendam kini bangkit kembali. Sabtu malam (24/10/2026) Suara cerita leluhur bergema memukau, menyapa sekitar 500 jiwa yang hadir dari berbagai penjuru, menyaksikan peristiwa luar biasa yang tak hanya sekadar pertunjukan seni, tetapi kebangkitan identitas sebuah daerah.
Pertunjukan Seni Drama, Tari, dan Musik bertajuk Samagra Babad Cisoka telah menorehkan jejak indah di hati masyarakat. Lebih dari sekadar tawa dan tepuk tangan, acara ini menjadi ruang di mana masa lalu bertemu masa kini, menghubungkan generasi tua dengan para pemuda, dalam satu ikatan rasa bangga akan warisan leluhur.
Di panggung itu, kisah hidup kembali. Kostum yang penuh makna, tata cahaya yang memeluk setiap sudut panggung, serta narasi yang mengalir lembut namun menggetarkan jiwa — semua seolah membawa penonton melintasi waktu, menyaksikan sendiri bagaimana kisah Cisoka terukir dalam lembaran sejarah.
Anugrah Dwi Sandi, tokoh muda Cisoka yang hadir di antara penonton, tak kuasa menahan kekagumannya. Baginya, kehadiran seni yang mengangkat sejarah lokal bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan mendesak di tengah derasnya arus perubahan zaman.
"Kegiatan seni yang mengangkat sejarah daerah memiliki arti penting dalam memperkuat kecintaan masyarakat terhadap budaya lokal, sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal warisan sejarah di lingkungannya," ungkap Anugrah dengan nada tulus.
Lebih dari sekadar tontonan indah, pertunjukan ini ia yakini adalah jembatan pemahaman. Sejarah tak lagi menjadi catatan kaku di atas kertas, melainkan cerita yang hidup, yang dirasakan, dipahami, dan dicintai.
"Pertunjukan seni bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan sarana edukasi dan penguatan identitas masyarakat. Melalui pendekatan kreatif, sejarah daerah diperkenalkan secara relevan kepada generasi muda," tambahnya.
Namun, di tengah kemeriahan dan keberhasilan yang diraih, ada pesan mendalam yang tak boleh terlupakan: sejarah harus dijaga dengan kebenaran. Penguatan literasi sejarah melalui pementasan seni ini perlu terus didukung rujukan yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, terutama dalam menggambarkan sosok tokoh, peristiwa, dan latar sejarah. Sebab, cerita yang benar adalah warisan yang abadi.

Keindahan pementasan ini adalah buah dari persatuan. Samagra Babad Cisoka lahir dari kolaborasi indah lintas disiplin ilmu dan seni, antara komunitas Artura, Teater Bahtera, serta mitra seni lainnya yang bekerja dengan sepenuh hati. Di balik keberhasilan ini ada tangan-tangan kreatif yang mewujudkan mimpi menjadi kenyataan:
Tim Produksi & Seniman:
Sutradara: Rizka Puspitasari
Penulis Naskah & Koreografer: Irham Mulyana
Dramaturg: Badrussalam
Komposer Musik: Makhroji
Para Pemeran yang Memukau:
Ikbal Aulia Rahman (Syekh Mas Mas’ad)
Badrussalam (Syekh Mubarok)
Irvan Saputra Lubis (Sultan Maulana Yusuf)
Muhammad Alviansyah (Ki Daeng)
Haikal Fahmi (Raja Pajajaran)
Dias Eka Kusuma (Ki Buyut Seteng)
Aldi Firmansyah (Ki Mas Laeng)
Muhammad Ryan (Penjaga Perbatasan)
Samagra Babad Cisoka bukanlah akhir sebuah cerita, melainkan awal dari sebuah perjalanan panjang pelestarian budaya. Anugrah Dwi Sandi berharap cahaya yang telah dinyalakan ini tak akan padam.
"Harapan saya, kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan mendapatkan ruang yang lebih luas. Kita ingin generasi muda tidak hanya mengenal perkembangan teknologi dan budaya modern, tetapi juga memahami sejarah serta identitas daerahnya sendiri. Jika pemerintah, komunitas, dunia pendidikan, dan masyarakat berjalan bersama, saya optimistis upaya pelestarian budaya akan memiliki fondasi yang lebih kuat," harapnya dengan penuh keyakinan.
Langkah ke depan telah terbayang: penguatan komunitas seni, regenerasi pelaku budaya, pendokumentasian sejarah yang akurat, hingga penyelenggaraan kegiatan secara konsisten dan berkelanjutan. Sebab, sejarah Cisoka adalah harta bersama — dan harta ini layak dijaga, diwariskan, dan terus dinyalakan bagi generasi mendatang. (Lingga)
