Banten

Banten (6883)

LEBAK, lensafokus.id – Maraknya aktivitas galian pasir ilegal di sejumlah wilayah Kabupaten Lebak memicu alarm bahaya. Anggota DPRD Provinsi Banten asal Kabupaten Lebak, Musa Weliansyah, bahkan menilai kondisi saat ini sudah layak disebut sebagai "darurat tambang pasir ilegal" karena praktik penambangan tanpa izin semakin meluas dan berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan yang serius.

Menurut Musa, aktivitas tambang ilegal yang terus beroperasi secara terbuka seolah menjadi tontonan publik. Ironisnya, hingga kini belum terlihat tindakan tegas yang mampu menghentikan aktivitas yang diduga merugikan lingkungan dan negara tersebut.

"Keberadaan aktivitas galian pasir ilegal dapat merusak lingkungan. Pasir laut yang mereka gali kemudian dikemas ke dalam karung dan dijual ke kawasan industri di Tangerang maupun Cikande," kata Musa Weliansyah di Rangkasbitung, Kamis (11/06/2026).

Musa menyoroti wilayah Kecamatan Cihara sebagai salah satu titik yang paling mengkhawatirkan. Selain berada di kawasan pesisir pantai, sebagian aktivitas tambang pasir kuarsa bahkan disebut telah merambah kawasan Perhutani.

Menurutnya, maraknya tambang ilegal di Lebak Selatan tidak terlepas dari lemahnya penegakan hukum terhadap para pelaku, termasuk pihak yang membeli dan mendistribusikan hasil tambang ilegal tersebut.

"Di Kecamatan Cihara ada tiga lokasi. Salah satunya berada di kawasan Perhutani. Persoalan tambang ilegal ini terjadi karena lemahnya penegakan hukum. Seharusnya semua pihak yang terlibat, termasuk penadah dan pembelinya, diproses sesuai hukum yang berlaku," tegasnya.

Politisi yang dikenal vokal tersebut juga meminta Polda Banten segera turun tangan melakukan penyelidikan dan penindakan terhadap jaringan tambang ilegal yang masih beroperasi di Kabupaten Lebak.

Menurut Musa, para pelaku tambang ilegal terkesan tidak gentar terhadap penertiban. Ia menyebut pernah terjadi lokasi tambang yang ditutup oleh Satpol PP pada siang hari, namun kembali beroperasi pada malam harinya.

"Kondisi ini menunjukkan bahwa para pelaku sangat bandel. Karena itu saya meminta Polda Banten segera mengusut tuntas aktivitas galian pasir ilegal tersebut," ujarnya.

Musa menegaskan dirinya tidak akan tinggal diam. Ia berkomitmen terus mengawal persoalan tambang ilegal yang dinilai semakin mengancam kelestarian lingkungan di Kabupaten Lebak.

Bahkan, salah satu aktivitas tambang pasir kuarsa yang beroperasi di kawasan Kawasan Hutan Dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK) telah dilaporkannya kepada aparat penegak hukum lingkungan di tingkat pusat.

"Saya akan terus mengawal persoalan ini. Untuk tambang pasir kuarsa yang beroperasi di kawasan KHDPK, sudah saya sampaikan ke Gakkum Kementerian Kehutanan agar segera ditindak tegas," katanya.

Berdasarkan hasil pantauan di lapangan, aktivitas tambang pasir ilegal disebut tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten Lebak, di antaranya Kecamatan Cihara, Kecamatan Cimarga, dan Kecamatan Gunung Kencana.

Tak hanya persoalan legalitas tambang, sorotan juga mengarah kepada aspek lingkungan. Di Kecamatan Gunung Kencana, salah satu perusahaan tambang pasir yakni PT Mitra Jaya Minning (MJM) disebut belum memiliki Izin Pengelolaan Air Limbah (IPAL).

Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar apabila tidak segera ditangani.

"PT MJM tidak memiliki IPAL," ungkap Wawan Wahyudi, Kepala Bidang AMDAL pada Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Banten. (C2p)

LEBAK, lensafokus.id – Mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) menggelar edukasi mitigasi bencana melalui Event Pameran Sawala Lembur yang berlangsung di halaman SMA Negeri 1 Bayah, Kabupaten Lebak, Rabu (10/6/2026).

Kegiatan bertema "Membangun Kesadaran Mitigasi Bencana, Kenali Alam dan Siagakan Diri" tersebut secara resmi dibuka oleh Kepala SMAN 1 Bayah, Drs. Asep Darmamulya, M.Si. Pameran ini menjadi ruang edukasi, dialog, dan kolaborasi untuk memperkuat budaya sadar bencana di wilayah Banten Selatan.

Pameran Sawala Lembur merupakan bagian dari program Project Humanity yang digagas mahasiswa UMN bekerja sama dengan Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) dan SMAN 1 Bayah.

Kepala SMAN 1 Bayah, Asep Darmamulya, mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, edukasi mitigasi bencana sangat relevan dengan kondisi geografis Bayah yang berada di kawasan rawan bencana.

"Mitigasi bencana merupakan pengetahuan yang harus dimiliki masyarakat, khususnya para pelajar. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dikembangkan dan menjadi bagian dari budaya belajar di lingkungan sekolah," ujar Asep.

Penyelenggara Event Sawala Lembur, Gina Fajriatien Nisa, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi UMN, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan hasil implementasi teori dan pengamatan lapangan yang dilakukan bersama tim mahasiswa UMN sejak April 2026.

Menurut Gina, kolaborasi antara akademisi, sekolah, pemerintah, komunitas, media, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun kesadaran kolektif terhadap pentingnya mitigasi bencana.

"Sebagai event organizer, saya merasa bangga sekaligus terhormat dapat memfasilitasi ruang edukasi, ruang dialog, dan ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam satu tujuan besar, yaitu membangun kesadaran mitigasi bencana, mengenali alam, dan menyiagakan diri," katanya.

Ia menambahkan, sebuah kegiatan tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga wadah bertemunya gagasan, pengalaman, dan kesadaran bersama untuk menghasilkan perubahan positif bagi masyarakat.

"Kami ingin menghadirkan kegiatan yang tidak hanya informatif, tetapi juga interaktif, dekat dengan masyarakat, dan mudah dipahami oleh semua kalangan," ujarnya.

Gina menjelaskan, nama Sawala Lembur dipilih karena memiliki makna filosofis yang kuat. Dalam bahasa Sunda, sawala berarti ruang bermusyawarah atau bertukar pikiran, sedangkan lembur berarti kampung atau tempat hidup bersama.

"Karena itu, Sawala Lembur kami maknai sebagai ruang bersama untuk berdialog tentang masa depan kampung, tentang bagaimana masyarakat harus siap, sadar, dan tangguh menghadapi ancaman bencana," ungkapnya.

Tema mitigasi tsunami yang diangkat dinilai sangat relevan dengan kondisi geografis Bayah dan kawasan Banten Kidul yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia. Selain potensi gempa megathrust dan tsunami, wilayah tersebut juga menghadapi ancaman longsor dan banjir yang hampir setiap tahun terjadi di sejumlah daerah.

"Ancaman itu tidak boleh membuat kita hidup dalam ketakutan. Sebaliknya, harus menjadi alasan untuk memperkuat kesiapan, memperluas pengetahuan, dan membangun budaya sadar bencana. Sebab, mitigasi terbaik selalu dimulai dari pengetahuan dan kesiapsiagaan," kata Gina.

Sebagai implementasi dari tema tersebut, penyelenggara menghadirkan tiga pendekatan edukasi dalam satu rangkaian kegiatan.

Pertama, peluncuran Buku Katalog Rambu Evakuasi Berbasis Kearifan Lokal karya Cera. Buku tersebut diharapkan menjadi media literasi masyarakat dalam memahami risiko dan langkah-langkah pengurangan dampak bencana.

Kedua, peluncuran board game edukasi tsunami karya Adestua. Permainan edukatif ini dirancang sebagai media pembelajaran kreatif untuk memperkenalkan konsep mitigasi bencana kepada generasi muda dengan cara yang menyenangkan dan interaktif.

"Belajar tentang kebencanaan tidak harus selalu kaku dan menegangkan. Melalui permainan edukatif, pesan mitigasi dapat lebih mudah dipahami dan diingat, khususnya oleh para pelajar," ujar Gina.

Ketiga, penyelenggaraan talk show kebencanaan yang menghadirkan narasumber dari berbagai bidang untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, serta membangun dialog mengenai tantangan dan solusi dalam pengurangan risiko bencana.

Gina berharap para siswa SMAN 1 Bayah dapat menjadi agen perubahan dalam membangun budaya sadar bencana di lingkungan masing-masing.

"Kalian adalah generasi masa depan Bayah dan Banten Kidul. Mulailah dari mengenali tanda-tanda alam, memahami jalur evakuasi, mengetahui titik aman, hingga berani mengambil keputusan cepat saat keadaan darurat," pesannya.

Dalam kesempatan tersebut hadir pula Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, H. Sukanta, S.Pd., M.Pd., yang menyampaikan materi mengenai pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi bencana di wilayah Banten Kidul melalui sesi podcast yang dipandu host Jeselyn.

Selain menampilkan tiga program edukasi utama, Pameran Sawala Lembur juga memamerkan sejumlah karya mahasiswa lainnya, di antaranya Buku Saku untuk OSIS karya Ricky, Buku Modul Wali Murid karya Gavriella, serta Buku Guru karya Abigail F. (Red)

TANGERANG, lensafokus.id – Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid bersama komunitas jurnalis yang tergabung dalam Jaringan Jurnalis Peduli Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tangerang, PT Indah Kiat Pulp & Paper, melakukan penanaman 10.000 batang mangrove di kawasan Ketapang Urban Aquaculture (KUA), Kecamatan Mauk, Rabu (10/06/26).

Pada kesempatan itu, Bupati Maesyal Rasyid mengapresiasi peran aktif para jurnalis yang tidak hanya menjalankan fungsi menyebarkan informasi publik, tetapi juga turut mengambil bagian dalam aksi nyata pelestarian lingkungan dengan aksi penanaman 10 ribu batang mangrove di KUA

"Kami bersama Dinas Lingkungan Hidup, PT Indah Kiat, teman-teman wartawan dari Jaringan Peduli Lingkungan, menanam 10.000 batang mangrove di Desa Ketapang, Kecamatan Mauk. Ini adalah bentuk kepedulian bersama terhadap lingkungan dan bukti nyata kolaborasi yang terus terjalin antara pemerintah, swasta, komunitas, dan insan pers," ujar Bupati Maesyal Rasyid

Menurutnya, penanaman mangrove memiliki manfaat yang sangat besar bagi kawasan pesisir. Selain berfungsi untuk menahan abrasi pantai, mangrove juga berperan dalam meningkatkan kualitas udara, menjaga keseimbangan ekosistem, serta menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi masyarakat sekitar.

"Manfaat mangrove sangat banyak. Yang pertama dapat menahan abrasi, kemudian menghasilkan oksigen yang baik bagi kualitas udara, mendukung penghijauan, serta memberikan dampak positif bagi kesehatan masyarakat. Karena itu, program seperti ini harus terus kita lanjutkan dan perkuat," ujarnya.

Ia menambahkan, keberadaan hutan mangrove yang tumbuh dan berkembang dengan baik juga dapat menjadi daya tarik wisata baru di kawasan pesisir Kabupaten Tangerang. Salah satunya adalah Ketapang Urban Aquaculture yang memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata edukasi lingkungan dan mampu menarik kunjungan masyarakat dari berbagai daerah.

"InsyaAllah jika mangrove ini tumbuh subur dan semakin banyak, kawasan ini akan semakin hijau dan menarik. Ini bisa menjadi daya tarik bagi pengunjung dari luar Kabupaten Tangerang untuk datang dan menikmati destinasi Ketapang Urban Aquaculture di Kecamatan Mauk," ungkapnya.

Pihaknya pun menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam kegiatan tersebut, khususnya PT Indah Kiat, Jaringan Jurnalis Peduli Lingkungan, serta seluruh relawan dan masyarakat yang terlibat.

"Atas nama Pemerintah Kabupaten Tangerang, kami mengucapkan terima kasih kepada PT Indah Kiat, teman-teman wartawan yang peduli terhadap lingkungan, dan seluruh pihak yang telah berpartisipasi. Semoga kolaborasi ini terus berlanjut demi mewujudkan lingkungan pesisir yang lebih hijau, sehat, dan berkelanjutan," pungkasnya. (Red)

TANGERANG, lensafokus.id – RSUD Tigaraksa terus memperkuat komitmennya dalam mendukung pelayanan kesehatan masyarakat, Melalui agenda rutin, rumah sakit milik pemerintah daerah ini kembali menggelar aksi donor darah bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI). Kegiatan tersebut berlangsung di Lantai 1 RSUD Tigaraksa, Rabu (10/6/2026).

Dalam Kesempatan tersebut, Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD Tigaraksa, dr. Elni Handayani, menyatakan bahwa aksi ini merupakan langkah konkret manajemen dalam merespons tingginya kebutuhan darah di berbagai fasilitas kesehatan.

"Kegiatan donor darah ini merupakan agenda rutin dari RSUD Tigaraksa yang diselenggarakan setiap dua bulan sekali. Tujuannya adalah sebagai langkah nyata kami dalam mendukung pelayanan kesehatan, khususnya untuk menjaga ketersediaan dan memenuhi kebutuhan stok darah bagi masyarakat di Kabupaten Tangerang," ujar dr. Elni.

Menariknya, aksi sosial ini tidak hanya menyasar pegawai Pemerintah Kabupaten Tangerang, tetapi juga dibuka lebar bagi masyarakat umum. Pihak manajemen bahkan telah melakukan sosialisasi masif jauh-jauh hari agar gerakan kemanusiaan ini bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Melihat urgensi pemenuhan stok darah yang dinamis, dr. Elni berharap angka partisipasi masyarakat dapat terus meningkat pada pelaksanaan-pelaksanaan berikutnya.

"Harapan kami ke depan adalah semakin banyak peserta yang ikut berpartisipasi. Kami juga mengajak dan mengimbau masyarakat untuk ikut serta, karena informasi mengenai kegiatan ini sudah disebarluaskan secara luas. Semoga dari waktu ke waktu, antusiasme warga yang berperan serta terus meningkat," tuturnya.

Lebih lanjut, dr. Elni memaparkan bahwa donor darah merupakan aksi kemanusiaan yang memberikan dampak positif timbal balik (win-win solution), baik bagi penerima (resipien) maupun bagi pendonor itu sendiri.

Dari sudut pandang medis, donor darah dapat membantu mengoptimalkan sirkulasi darah. Selain itu, proses ini merangsang sumsum tulang untuk memproduksi sel-sel darah merah baru sehingga regenerasi darah berlangsung lebih efektif.

"Tentu saja, kegiatan ini memberikan manfaat ganda. Bagi para pendonor, ini adalah momen untuk berbagi tanpa merasa dirugikan. Secara medis, donor darah justru membuat tubuh menjadi lebih sehat karena dapat memicu proses pembentukan sel-sel darah baru secara lebih cepat," jelasnya.

Ia menutup penjelasannya dengan menegaskan bahwa misi utama dari agenda rutin ini adalah menciptakan keseimbangan antara kesehatan individu dan kepedulian sosial di Kabupaten Tangerang.

"Jadi, tujuan kegiatan ini mencakup dua hal: memberikan manfaat kesehatan bagi pribadi pendonor, sekaligus membantu masyarakat yang sedang membutuhkan pasokan darah," pungkasnya.

Manfaat nyata dari donor darah ini turut dirasakan oleh salah satu warga Kelurahan Kadu Agung, Asmiati, yang hadir sebagai pendonor. Ia menuturkan bahwa kegiatan ini menjadi pengalaman rutin yang sudah beberapa kali ia ikuti.

"Tujuan saya rutin mengikuti kegiatan donor darah ini adalah untuk menjaga agar sirkulasi darah di dalam tubuh tetap berjalan dengan lancar, sekaligus berharap setetes darah yang saya donorkan dapat membantu menyelamatkan nyawa orang lain," ungkapnya.

Ia mengaku selalu merasakan efek positif pada tubuhnya pasca-donor seperti tubuh selalu terasa fit dan segar dan badan terasa lebih enak dan terasa ringan. Kesadaran ini membuatnya berkomitmen untuk selalu hadir setiap ada undangan donor darah.

"Saya sudah melakukan donor darah sebanyak enam kali. Jumlah tersebut belum termasuk riwayat donor sebelum saya menggunakan aplikasi," terangnya.

Pada pelaksanaan donor darah kali ini, antusiasme masyarakat dan pegawai cukup tinggi. Tercatat sebanyak 74 orang mendaftar sebagai pendonor. Dari jumlah tersebut, 63 orang berhasil mendonorkan darahnya, sementara 11 orang lainnya ditunda atau tidak dapat mendonor karena belum memenuhi persyaratan medis, seperti kadar hemoglobin atau tekanan darah yang tidak sesuai standar. (Red)

Tangerang, lensafokus.id – Pemerintah Kabupaten Tangerang resmi membuka Seleksi Daerah Program Beasiswa Luar Negeri dalam skema Beasiswa Gemilang 2026 dengan kampus tujuan Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Seleksi wawancara tersebut diselenggarakan di Ruang Rapat Wareng, Gedung Bupati Tangerang, pada Rabu (10/06/2026).

Acara tersebut dibuka langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tangerang, Soma Atmaja. Program ini merupakan bentuk komitmen berkelanjutan Pemkab Tangerang dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan mempersiapkan generasi muda yang kompetitif di kancah internasional.

Dalam sambutannya, Sekda Soma Atmaja menjelaskan bahwa pada tahun anggaran 2026 ini, Pemerintah Kabupaten Tangerang menggelontorkan dana sebesar Rp22 miliar khusus untuk program Beasiswa Tangerang Gemilang. Pemerintah daerah juga berhasil mengoptimalkan daya tampung penerima beasiswa dari target awal 675 orang menjadi 976 mahasiswa.

"Total anggaran tersebut dialokasikan untuk membiayai mahasiswa yang tersebar di 35 perguruan tinggi, baik di dalam negeri maupun di Mesir, dengan rincian 424 mahasiswa baru, 497 mahasiswa ongoing yang saat ini sedang menempuh perkuliahan, dan 55 mahasiswa penerima bantuan tugas akhir/skripsi," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa, khusus untuk klaster keberangkatan Universitas Al-Azhar Kairo, terdapat lebih dari 50 peserta yang telah dinyatakan lolos seleksi kelayakan awal. Namun, karena keterbatasan kuota formasi, Pemkab Tangerang hanya akan memilih 25 peserta terbaik untuk diberangkatkan pada tahun ini.

"Hari ini kita menunggu hasil akhir seleksi untuk mengumumkan seluruh 976 penerima beasiswa secara terbuka kepada publik. Bagi anak-anakku yang belum beruntung hari ini, jangan berkecil hati karena masih ada kesempatan di tahun depan. Pegang teguh pepatah Labor Omnia Vincit bahwa kerja keras akan mengalahkan segalanya. Manfaatkan kesempatan emas ini dengan sebaik-baiknya untuk menyongsong Indonesia Emas dan Indonesia Maju 2045," jelas Soma Atmaja.

Soma Atmaja mengungkapkan dalam proses seleksi wawancara dirancang secara ketat untuk menguji kesiapan akademis, linguistik, dan spiritual para calon mahasiswa. Tim penguji memberikan instrumen penilaian mendalam mulai dari uji percakapan aktif bahasa Arab, kemampuan membaca sekaligus mengartikan kitab kuning, hingga kelancaran hafalan Al-Qur'an minimal 2 juz.

"Selain kompetensi keagamaan, Pemkab Tangerang juga menerapkan verifikasi faktual yang ketat terkait persyaratan kelayakan ekonomi. Hal ini dilakukan agar program beasiswa penuh tepat sasaran dan diprioritaskan bagi calon penerima berbakat yang berasal dari keluarga kurang mampu secara finansial," ungkapnya.

Di lokasi yang sama, salah satu peserta seleksi asal Kecamatan Jayanti, Nabila Wardani Haifurrahma, membagikan pengalamannya selama mengikuti proses penyaringan. Alumni Pondok Pesantren Modern Al-Mizan 3 ini menjelaskan bahwa dirinya harus melewati tahapan ujian di Kementerian Agama (Kemenag) terlebih dahulu sebelum mendaftarkan diri ke program Beasiswa Tangerang Gemilang.

Nabila mengungkapkan motivasi besarnya untuk bisa belajar langsung di universitas Islam tertua di dunia tersebut.

"Saya ingin sekali belajar bersama para ulama Al-Azhar. Bagi saya, Al-Azhar merupakan pusat dari moderasi dan keseimbangan dalam ajaran agama Islam. Harapan besar saya, semoga bisa lulus seleksi hari ini, dilancarkan studinya, sukses, dan kelak bisa membahagiakan kedua orang tua," tutur Nabila penuh harap. (Red)

Tangerang, lensafokus.id -- Wakil Bupati (Wabup) Tangerang, Intan Nurul Hikmah menegaskan bahwa lingkungan pendidikan harus bebas dari segala bentuk tindakan kekerasan. Hal tersebut diungkapkan Wabup Intan saat membuka acara sosialisasi Pencegahan Kekerasan terhadap Anak di Sekolah bagi Guru PAUD/TK di Kabupaten Tangerang, Rabu (10/06/26).

"Saya ingin menegaskan bahwa tidak boleh ada ruang bagi segala bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan. Kita harus memastikan sekolah benar-benar bebas dari segala bentuk kekerasan, baik kekerasan fisik, verbal, psikologis, perundungan maupun bentuk kekerasan lainnya," tegas Wabup Intan

Dalam sambutannya, dia menyebut bahwa kekerasan terhadap anak bukan hal yang remeh dan sepele. Bentakan, ejekan, atau kata-kata yang merendahkan dan perundungan dapat meninggalkan luka yang membekas dan mempengaruhi tumbuh kembang anak. Untuk itu, pendekatan yang mengedepankan kasih sayang, komunikasi yang positif, kesabaran, dan keteladanan harus menjadi budaya dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan usia dini

"Apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh guru hari ini akan melekat dalam ingatan anak-anak hingga mereka dewasa nanti. Karena itu saya meyakini bahwa guru bukan hanya pendidik, tetapi juga pelindung, pembimbing, sekaligus teladan bagi anak-anak kita," ujarnya

Dia juga menyoroti pentingnya peran strategis para guru PAUD dan TK yang sangat luar biasa. Guru PAUD dan TK merupakan salah satu pihak yang terlibat langsung dalam membentuk karakter anak pada masa emas pertumbuhannya. Untuk itu, kerja sama dan kolaborasi yang kuat menjadi kunci suksesnya pembangunan manusia seutuhnya

"Kerja sama dan kolaborasi dari semua pihak, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, dunia usaha, hingga seluruh pemangku kepentingan merupakan kunci keberhasilan pembangunan manusia seutuhnya. Bapak dan ibu guru merupakan salah satu garda terdepan dalam mewujudkan Kabupaten Tangerang Layak Anak," tandasnya

Lanjut dia, Pemerintah Kabupaten Tangerang memiliki komitmen kuat untuk mewujudkan Kabupaten Layak Anak. Dia juga mengajak seluruh guru PAUD dan TK di Kab. Tangerang untuk terus menguatkan sinergi dan kolaborasi secara aktif menjadikan sekolah sebagai rumah kedua yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi anak-anak.

"Mari kita jadikan sekolah sebagai rumah kedua yang aman dan menyenangkan bagi setiap anak. Ketika anak-anak tumbuh tanpa kekerasan, mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan bimbingan dengan penuh kasih sayang maka kita sedang menyiapkan generasi yang sehat, cerdas, berkarakter dan berdaya saing," imbuhnya

Kepala Dinas Pemberdayaan dan Perlindungan Anak (DP3A), Asep Suherman menjelaskan bahwa sosialisasi tersebut dikuti oleh para guru PAUD dan TK dari 29 kecamatan dengan menghadirkan narasumber dari Universitas Paramadina Jakarta dan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Provinsi Banten.

Pihaknya berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat yang nyata dalam meningkatkan kapasitas para pendidik sehingga mampu mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman dan bebas dari segala bentuk kekerasan terhadap anak.

"Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman, pengetahuan dan kapasitas guru PAUD dan TK dalam upaya mencegah, mengenali serta menangani berbagai bentuk kekerasan terhadap anak, mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif dan ramah anak sehingga proses tumbuh kembang anak dapat berlangsung secara optimal," jelas Asep. (Red)

Page 32 of 689
Go to top