Tangerang, lensafokus.id - Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid meminta pihak kecamatan dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) secara serentak menjelang Bulan Ramadan 1447 H/2026 M. Hal tersebut diungkapkan Bupati Maesyal Rasyid saat menghadiri Rakor Forkopimda menjelang Bulan Ramadan di GSG Puspemkab Tangerang, Selasa, (10/02/26)
"Saya minta kepada para camat, Diperindag, Dinas Pertanian dan pihak terkait lainnya bisa saling koordinasi untuk menggelar Gerakan Pangan Murah serentak dalam 1 hari berbarengan menjelang Ramadan," pinta Bupati Maesyal Rasyid
Lanjut dia, Pemkab Tangerang bersama MUI juga akan segera membahas Surat Edaran (SE) untuk menjaga kesucian dan ketenangan selama bulan Ramadan. Untuk itu, pihaknya juga menginstruksikan kepada OPD terkait terus menguatkan sinergi dan kolaborasi dengan MUI bekerja sama dengan Pemkot Tangerang dan Pemkot Tangsel agar SE yang diedarkan nantinya bisa seragam dengan kedua wilayah tersebut.
"Besok bersama MUI akan kita bahas terkait surat edaran untuk menjaga kesucian dan ketenangan selama bulan Ramadan. Kita juga ingin surat edaran ini seragam baik dengan Kota Tangerang maupun Tangsel," ungkapnya
Dia menambahkan, SE bersama yang dikeluarkan nantinya berisi antara lain tentang penutupan sementara tempat hiburan malam, pembatasan jam operasional rumah makan dan restoran serta himbauan lainnya untuk bersama-sama menjaga kesucian dan ketenangan di bulan Ramadan
"Surat edaran ini kita akan berlakukan paling lambat 1 hari sebelum Ramadan sampai dengan 2 atau 3 hari setelah lebaran. Kita akan segera susun dan bahas supaya bisa segera ditandatangani bersama dan kita sebarkan kepada masyarakat," imbuhnya
Sementara itu, Wakil Bupati Tangerang, Intan Nurul Hikmah menegaskan pentingnya ketepatan sasaran penerima GPM dan keakuratan data terkait fluktuasi harga dan ketersediaan komoditi pokok di masyarakat, khususnya menjelang Ramadan dan lebaran.
"Kita ingin agar pelaksanaan GPM itu nanti harus tepat sasaran penerimanya. Terus keakuratan data terkait harga dan ketersedian bahan pokok juga terus dipantau agar kita bersama juga bisa melakukan langkah antisipasinya," tandasnya
Selian itu pihaknya juga menekankan pentingnya upaya-upaya penindakan tegas sebagai efek jera kepada para pihak yang melanggar peraturan yang telah ditetapkan, baik itu terkait dengan permainan harga maupun segala aktifitas yang mencemari kesucian bulan suci Ramadan
"Kalau ada pelanggaran-pelanggaran, bagaimana laporannya, jangan sampai cuma formalitas. Tindakan tegas kepada para pelanggar juga harus diterapkan agar masyarakat bisa melaksanakan ibadah dengan aman dan nyaman," pungkasnya
Hal lain yang perlu menjadi pembahasan dan perhatian serta kewaspadaan bersama pada Rakor tersebut adalah potensi bencana mengingat musim penghujan dan berbagai aktifitas di bulan Ramadan yang bisa membuat kegaduhan dan gangguan Kamtibmas. (Red)
LEBAK, lensafokus.id – Dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Banten bekerja sama dengan Artha Graha Group menyalurkan sebanyak 3.000 paket sembako kepada masyarakat kurang mampu.
Khusus di Kabupaten Lebak, sebanyak 300 paket sembako disalurkan langsung kepada warga penerima manfaat. Kegiatan tersebut berlangsung di Sekretariat PWI Kabupaten Lebak, Selasa (10/2/2026).
Ketua PWI Provinsi Banten, Riyan Nopandra, mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk sinergi antara insan pers dan dunia usaha dalam membantu masyarakat yang membutuhkan.
“Kerja sama PWI Banten dengan Artha Graha Group ini menunjukkan bahwa pers dapat berkolaborasi dengan sektor swasta untuk menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat. Momentum HPN kami maknai dengan aksi sosial,” ujar Riyan Nopandra yang akrab disapa Opan.
Sementara itu, perwakilan Artha Graha Group, David, menyampaikan bahwa bantuan sembako tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menunjukkan kepedulian sosial kepada masyarakat.
“Bantuan ini merupakan wujud kepedulian perusahaan untuk turut berkontribusi membantu masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Paket sembako yang dibagikan berisi kebutuhan pokok, di antaranya gula pasir, minyak goreng, dan mi instan merek premium.
Ketua PWI Kabupaten Lebak, Ajat Sudrajat, menjelaskan bahwa penyaluran bantuan dilakukan berdasarkan data penerima agar tepat sasaran.
“Di Kabupaten Lebak, kami menyalurkan 300 paket sembako kepada warga kurang mampu. Ini bukan hanya bantuan material, tetapi juga wujud nyata kepedulian insan pers terhadap masyarakat,” jelas Ajat.
Salah satu penerima bantuan, Titin (58), warga Cikatapis, Kecamatan Kalanganyar, mengaku bersyukur atas bantuan yang diterimanya.
“Alhamdulillah, terima kasih kepada PWI dan Artha Graha. Bantuan ini sangat membantu kebutuhan sehari-hari keluarga kami,” ungkapnya.
Melalui kerja sama dengan Artha Graha Group, PWI Banten menegaskan bahwa peringatan HPN 2026 tidak hanya diisi dengan kegiatan seremonial, tetapi juga aksi sosial yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. (Cecep)
Tangerang, lensafokus.id – Pelaksana Tugas (Plt) Penanggung Jawab Penerangan Jalan Umum (PJU) Kabupaten Tangerang, Yosep, menjelaskan bahwa perencanaan dan pemasangan PJU dilakukan melalui dua skema anggaran dalam satu tahun, yakni anggaran murni dan Anggaran Biaya Tambahan (ABT). Dengan mekanisme tersebut, pemasangan PJU memungkinkan dilakukan hingga dua kali dalam satu tahun, menyesuaikan ketersediaan anggaran daerah.
Menurut Yosep, pengajuan PJU dapat dilakukan melalui berbagai jalur, mulai dari Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten. Selain itu, masyarakat juga dapat mengusulkan langsung, namun realisasinya tetap bergantung pada ketersediaan anggaran Pemerintah Daerah.
“Jika PJU belum tersedia, artinya anggarannya memang belum ada. Bayangkan saja, dari sekitar 300 desa, misalnya ada 50 desa yang mengajukan, belum tentu semuanya bisa kita akomodir,” ujar Yosep.
Ia menegaskan bahwa penentuan lokasi PJU dilakukan berdasarkan skala prioritas, terutama pada wilayah dengan tingkat kepadatan lalu lintas tinggi serta kerawanan kriminalitas yang lebih besar.
Terkait pengajuan PJU yang belum terealisasi meskipun telah diajukan sejak beberapa tahun lalu, Yosep mengungkapkan adanya kendala administrasi di masa lalu. “Kita pejabat sering berganti, bahkan sudah empat kali pindah gedung. Ada data yang tercecer dan hilang, sehingga tidak terakomodir. Namun pada prinsipnya, pembangunan tetap diupayakan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran,” jelasnya.
Ia mencontohkan, hasil Musrenbang tahun 2023 yang belum terealisasi bukan hal yang luar biasa, karena bisa saja baru terealisasi pada tahun 2026.
Yosep juga memaparkan bahwa pembangunan PJU mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 47 yang mengatur kewenangan berdasarkan status jalan. Untuk jalan nasional, pembangunan PJU menjadi kewenangan kementerian terkait, seperti ruas jalan dari Manis hingga Jayanti sepanjang kurang lebih 30 kilometer. Jalan provinsi dengan panjang sekitar 112 kilometer, di antaranya ruas Bitung–Legok–Parung serta Cisoka–Tigaraksa–Panongan, menjadi kewenangan Dishub Provinsi. Sementara itu, jalan kabupaten dengan panjang sekitar 1.098 kilometer, termasuk jalan lingkungan, menjadi kewenangan Dishub Kabupaten Tangerang.
Untuk kawasan perumahan, Yosep menegaskan bahwa penyediaan PJU merupakan kewajiban pengembang. “Pengembang wajib menyediakan utilitas, termasuk PJU. Jika perumahan sudah diserahterimakan ke Pemda, maka PJU yang ada akan kita pelihara,” katanya.
Namun, ia mengakui bahwa keterbatasan anggaran membuat Pemda saat ini lebih memprioritaskan jalan umum yang lalu lintasnya padat dan rawan kriminalitas. “Bukan berarti perumahan tidak diprioritaskan, tetapi untuk saat ini fokus kita masih pada jalan umum,” tambahnya.
Terkait pemeliharaan, Yosep menjelaskan bahwa pemeriksaan PJU dilakukan secara berkala setiap enam bulan sekali atau menyesuaikan kondisi di lapangan. Jika ditemukan PJU mati dan material tersedia, perbaikan akan langsung dilakukan. Namun, cuaca ekstrem belakangan ini menjadi salah satu penyebab seringnya gangguan PJU.
“Saat cuaca hujan terus, satu panel bisa diperbaiki sampai tiga kali dalam sebulan,” ungkapnya. Saat ini, Dishub Kabupaten Tangerang hanya memiliki tujuh tim teknis, masing-masing terdiri dari tiga orang, yang melayani 29 kecamatan.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Tangerang, Jainudin, menyampaikan optimisme bahwa program PJU akan rampung. “Insyaallah penerangan jalan umum tahun 2026 rampung semua,” ujarnya.
Di sisi lain, Sekretaris Desa Pasir Nangka, Toto, menyampaikan apresiasi atas pemeliharaan PJU yang kini kembali menyala di sepanjang Jalan Pasir Nangka hingga Sudirman. Ia menyebut pengajuan perbaikan telah dilakukan sejak lama, namun baru terealisasi sekarang.
“Alhamdulillah sekarang sudah menyala kembali. Jalan ini banyak dilalui karyawan pabrik, apalagi ada titik jalan berlubang yang rawan kecelakaan jika gelap,” ujarnya.
Namun, Toto berharap perbaikan PJU juga dapat segera dilakukan di Perumahan Mustika. Menurutnya, meski perumahan tersebut telah diserahterimakan ke Pemda, banyak lampu PJU yang mati meski tiangnya sudah tersedia.
“Warga banyak yang kerja shift malam dan pulang sekitar jam 12 malam, sehingga rawan kriminalitas. Pengajuan sudah lama kami sampaikan, semoga bisa segera ditindaklanjuti,” pungkasnya. (Mala)
Tangerang, lensafokus.id – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, dr. Hendra Tarmizi, MARS, angkat bicara terkait penonaktifan kepesertaan BPJS Kesehatan yang dialami puluhan ribu warga di wilayahnya. Ia menegaskan, kebijakan tersebut bukan berasal dari pemerintah daerah, melainkan merupakan kebijakan dari Kementerian Sosial (Kemensos) RI di tingkat pusat.
Menurut dr. Hendra, tercatat sekitar 70.000 warga Kabupaten Tangerang mengalami penonaktifan BPJS Kesehatan, khususnya peserta yang sebelumnya terdaftar sebagai Penerima Bantuan Iuran (PBI).
“Perlu kami luruskan bahwa penonaktifan BPJS ini merupakan kebijakan dari Kemensos pusat, bukan keputusan pemerintah daerah. Data penerima PBI dilakukan pemutakhiran secara nasional,” ujar dr. Hendra Tarmizi, Senin (9/2/2026).
Ia menjelaskan, pemutakhiran data tersebut dilakukan untuk memastikan bantuan tepat sasaran, namun berdampak pada masyarakat yang sebelumnya aktif dan kini mendadak tidak bisa menggunakan layanan BPJS.
Terkait langkah yang harus ditempuh warga terdampak, dr. Hendra mengimbau masyarakat agar tidak panik dan segera melapor ke Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Tangerang.
“Warga yang BPJS-nya nonaktif harus melapor ke Dinsos untuk dilakukan verifikasi ulang. Nantinya, hasil verifikasi tersebut akan diusulkan kembali ke Kemensos agar kepesertaan bisa diaktifkan,” jelasnya.
Proses ini, kata dia, membutuhkan waktu karena harus melalui tahapan persetujuan di tingkat pusat.
Sebagai bentuk kehadiran negara di tengah masyarakat, Pemerintah Kabupaten Tangerang telah menyiapkan kebijakan darurat, khususnya bagi warga yang sedang menjalani perawatan medis berkelanjutan seperti cuci darah, pengobatan penyakit kronis, atau kondisi gawat darurat.
“Atas kebijakan Bupati Tangerang, bagi warga yang sedang menjalani perawatan dan BPJS-nya nonaktif, pemerintah daerah bisa mengaktifkan sementara melalui skema pembiayaan APBD sambil menunggu proses di pusat selesai,” ungkap dr. Hendra.
Kebijakan ini bertujuan agar masyarakat tidak terhenti mendapatkan layanan kesehatan yang bersifat vital dan menyelamatkan nyawa.
dr. Hendra juga menekankan pentingnya sosialisasi masif kepada masyarakat agar informasi tidak simpang siur dan menimbulkan kepanikan.
“Kami mengajak semua pihak, mulai dari pemerintah desa, kecamatan, hingga fasilitas kesehatan, untuk menyampaikan informasi ini secara benar. Masyarakat harus tahu langkah apa yang harus dilakukan ketika BPJS mereka tiba-tiba tidak aktif,” tegasnya.
Ia berharap dengan adanya penjelasan terbuka ini, masyarakat Kabupaten Tangerang tetap tenang, memahami prosedur yang ada, serta mendapatkan perlindungan kesehatan secara berkelanjutan. (Asp)
TANGERANG, lensafokus.id – Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid menyusuri bantaran Kali Cirarab di Kecamatan Pasar Kemis untuk meninjau langsung kondisi aliran sungai yang mengalami penyempitan dan berpotensi menyebabkan banjir di wilayah Pasar Kemis dan sekitarnya, Senin (9/2/2026).
Dalam peninjauan tersebut, Bupati Maesyal Rasyid menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal dalam rencana penurapan dan normalisasi Kali Cirarab yang akan dilaksanakan bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Kementerian Pekerjaan Umum.
“Saya menyusuri bantaran Kali Cirarab ini untuk melihat langsung kondisi eksisting sungai yang selama ini mengalami penyempitan, sehingga menjadi salah satu penyebab banjir di wilayah Pasar Kemis dan sekitarnya,” ujar Bupati Maesyal Rasyid.
Ia menjelaskan, penyempitan aliran Kali Cirarab disinyalir terjadi akibat keberadaan bangunan yang tidak sesuai peruntukan di sepanjang bantaran sungai. Oleh karena itu, pemerintah daerah bersama BBWS Kementerian PU akan melakukan normalisasi sekaligus penurapan bantaran sungai sebagai bagian dari upaya pengendalian banjir.
“Ke depan akan dilakukan penurapan bantaran Kali Cirarab oleh BBWS Kementerian Pekerjaan Umum. Bangunan di bantaran kali yang tidak sesuai ketentuan juga akan ditertibkan sesuai peraturan yang berlaku agar proses normalisasi dapat berjalan lancar,” tegasnya.
Usai peninjauan lapangan, Bupati Tangerang didampingi Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air, Kepala Satpol PP, Camat Pasar Kemis, Camat Sepatan, serta jajaran terkait, menggelar musyawarah bersama para ketua RW, tokoh masyarakat, aparat kecamatan, serta pengurus rumah ibadah yang berada di sepanjang aliran Kali Cirarab.
Musyawarah tersebut dilakukan untuk menyamakan pemahaman dan memberikan penjelasan secara menyeluruh kepada masyarakat terkait rencana penataan bantaran sungai.
“Kami langsung melakukan musyawarah dengan seluruh unsur terkait agar rencana penataan ini dapat dipahami dengan jelas oleh masyarakat,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Bupati Maesyal Rasyid juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah menunjukkan dukungan terhadap program penataan bantaran sungai, termasuk salah satu pemilik usaha pabrik tempe yang bersedia memindahkan lokasi usahanya dari bantaran Kali Cirarab.
“Saya sangat mengapresiasi jiwa besar pemilik pabrik tempe yang bersedia memindahkan usahanya demi kelancaran program normalisasi Kali Cirarab,” pungkasnya. (Red)
TANGERANG, lensafokus.id – Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid menyampaikan apresiasinya kepada SMK dan LPK Gyokai Indonesia Kompeten yang dinilai tidak hanya berperan sebagai lembaga pelatihan kerja, tetapi juga aktif membangun nilai-nilai keagamaan dan moral peserta didik.
Apresiasi tersebut disampaikan Bupati Maesyal Rasyid saat menghadiri peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW di lingkungan LPK dan SMK Gyokai Indonesia Kompeten, Kecamatan Cisoka, Senin (9/2/2026).
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Tangerang, kami menyampaikan apresiasi kepada SMK Gyokai Indonesia Kompeten yang tidak hanya fokus pada pelatihan kerja, tetapi juga aktif membangun nilai-nilai keagamaan dan moral melalui kegiatan peringatan Isra Mi’raj ini,” ujar Bupati Maesyal Rasyid.
Menurutnya, peringatan Isra Mi’raj bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan, melainkan momentum penting untuk mengingat kembali pesan-pesan keimanan, kedisiplinan, dan tanggung jawab, terutama melalui perintah salat yang menjadi pondasi kehidupan seorang muslim di tengah tantangan peradaban global.
“Nilai-nilai tersebut sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, termasuk dalam dunia pendidikan dan pelatihan kerja di era global saat ini,” tandasnya.
Bupati Maesyal Rasyid juga menilai keberadaan LPK dan SMK Gyokai Indonesia Kompeten sangat membantu masyarakat dan pemerintah daerah, khususnya dalam menyiapkan lulusan yang terampil dan siap kerja melalui kerja sama dengan berbagai perusahaan.
“Tempat pelatihan kerja ini sangat membantu pemerintah daerah dalam upaya mencerdaskan bangsa dan membuka peluang lapangan pekerjaan. Tadi dilaporkan telah menjalin kerja sama dengan sekitar 50 perusahaan, ini tentu sangat positif,” ujarnya.
Selain itu, Bupati menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Tangerang dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui program pendidikan tinggi gratis. Hingga saat ini, Pemkab Tangerang telah memfasilitasi 235 mahasiswa dari keluarga kurang mampu untuk menempuh pendidikan tinggi melalui Program Beasiswa Tangerang Gemilang, baik di perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri.
“Keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi penghalang bagi anak-anak Kabupaten Tangerang untuk mengenyam pendidikan tinggi. Kami ingin memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk sukses,” tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat serta generasi muda berprestasi yang berasal dari keluarga kurang mampu untuk memanfaatkan program Beasiswa Tangerang Gemilang, yang mencakup pembiayaan pendidikan hingga lulus, bantuan biaya hidup, fasilitas pendukung, hingga biaya keberangkatan bagi mahasiswa yang menempuh pendidikan di luar negeri.
“Melalui momentum ini, Pemerintah Kabupaten Tangerang menegaskan arah pembangunan yang menyeluruh, yaitu memperkuat nilai keagamaan sekaligus memperluas akses pendidikan gratis, demi melahirkan generasi yang religius, berilmu, dan siap membangun Kabupaten Tangerang yang semakin gemilang menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya. (Red)