Bogor, lensafokus.id – Satnarkoba Polresta Bogor Kota berhasil mengamankan 22 orang terkait kasus narkotika dan obat keras tertentu (OKT) dalam rangka Operasi Antik Lodaya 2025. Operasi yang berlangsung selama 10 hari, mulai 6–15 November 2025, ini juga menghasilkan penyitaan berbagai jenis barang bukti mulai dari sabu, ganja, tembakau sintetis hingga ribuan butir obat keras tertentu.
Kasat Narkoba Polresta Bogor Kota, AKP Ali Jupri, menjelaskan bahwa selama periode operasi, pihaknya menangani 20 kasus dengan total 28 laporan polisi.
“Selama 10 hari pelaksanaan Operasi Antik Lodaya 2025, Satnarkoba mengungkap 20 kasus penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang dengan jumlah tersangka 22 orang,” jelas Ali saat konferensi pers, Senin (17/11/2025).
Menurut Ali, para tersangka terdiri dari pengedar dan pengguna sabu, ganja, tembakau sintetis, hingga obat keras tertentu. Sebagian besar dari mereka merupakan target operasi (TO).
Untuk rincian kasus, Satnarkoba mengamankan dua tersangka kasus sabu dan ganja, yakni RA alias Abeng alias Bro (28) yang merupakan TO, serta EP (35) yang bukan TO.
Selain itu, terdapat 11 tersangka dari 10 laporan polisi terkait tembakau sintetis, serta sembilan tersangka dari kasus obat keras dan psikotropika.
Dalam pengungkapan tersebut, polisi menyita sejumlah barang bukti berupa 102,16 gram sabu, 2.003,13 gram ganja, 1.287,57 gram tembakau sintetis, 43.407 butir obat keras tertentu, serta 505 butir psikotropika.
Ali menegaskan, seluruh tersangka kini menjalani proses hukum lebih lanjut sesuai dengan tindak pidana yang dilakukan. (Zulfi kusuma)
TANGERANG, lensafokus.id – Wakil Bupati (Wabup) Tangerang Intan Nurul Hikmah menegaskan kapada para pagawai di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang untuk menguatkan budaya disiplin dan cepat tanggap dalam meningkatkan pelayanan publik dan tata kelola pemerintahan.
Hal tersebut diungkapkan Wabup Intan saat Apel Kesadaran Nasional Tingkat Kab. Tangerang di Lapangan Raden Aria Yudhanegara, Puspemkab Tangerang, Senin (17/11/25).
"Apel ini bukan sekadar rutinitas, tetapi momentum untuk memperkuat budaya kerja kita, baik budaya disiplin maupun budaya cepat tanggap dalam melayani masyarakat,” ujar Wabup Intan.
Menurut dia penguatan budaya kerja yang baik setiap aparatur pemerintah merupakan fondasi utama dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik dan tata kelola pemerintahan. Budaya disiplin harus menjadi dasar profesionalitas seorang aparatur, terutama disiplin waktu yang menjadi cerminan integritas pegawai.
"Budaya kerja yang kuat ini bisa memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Disiplin waktu harus menjadi budaya kerja, sebab kedisiplinan adalah bentuk penghargaan terhadap tugas dan tanggung jawab yang diemban serta penghargaan kepada masyarakat yang dilayani," tegasnya.
Ia menyoroti pentingnya budaya cepat tanggap atau responsif yang menuntut aparatur pemerintah harus mampu merespons cepat setiap permasalahan dan keluhan masyarakat. Dia juga menegaskan bahwa pemerintah harus hadir sebelum masalah berkembang dan memberikan penyelesaian yang tepat agar pelayanan publik tetap terjaga kualitasnya.
“Responsif berarti hadir sebelum masalah membesar dan menyelesaikan sebelum keluhan menumpuk. Setiap laporan masyarakat melalui berbagai saluran aduan harus ditangani secara cepat, tepat, dan transparan untuk menjaga kepercayaan publik," jelasnya.
Terkait aspek pelayanan, Wabup Intan kembali mengingatkan kepada seluruh aparatur agar melayani dengan humanis, informatif dan memberikan rasa nyaman serta mudah kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan.
“Pelayanan publik yang baik tidak hanya diukur dari kecepatan, tetapi juga dari sikap ramah, sopan, dan profesional yang ditunjukkan aparatur. Masyarakat datang untuk mencari solusi, bukan masalah baru. Karena itu, jadikan pelayanan berkualitas sebagai kebiasaan, bukan hanya slogan,” serunya.
"Budaya disiplin, budaya cepat tanggap, dan pelayanan yang baik harus menjadi identitas ASN Kabupaten Tangerang. Ketiga budaya kerja ini diharapkan dapat menguatkan kualitas penyelenggaraan pemerintahan sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat," ujarnya.
Selain menekankan tiga budaya kerja tersebut, Wabup Intan mengingatkan perangkat daerah untuk mempercepat realisasi penyerapan anggaran menjelang akhir tahun. Ia menegaskan bahwa percepatan ini harus tetap dilaksanakan secara akuntabel serta mengikuti seluruh regulasi guna memastikan program pembangunan berjalan sesuai target tanpa mengorbankan kualitas.
Pada kesempatan tersebut, Wabup Intan juga memberikan ucapan selamat kepada 194 PNS yang naik pangkat periode Desember 2025 dan berpesan untuk terus meningkatkan kinerja dan mengembangkan diri, aktif secara nyata, baik ide, gagasan maupun karya untuk pembangunan daerah
"Kenaikan pangkat ini bukan hanya bentuk penghargaan, tetapi amanah untuk meningkatkan profesionalitas dan kinerja," pesannya
Selain itu, ia juga turut melepas secara simbolis 36 PNS yang memasuki masa purnabhakti dan menyampaikan apresiasi atas pengabdian panjang yang telah mereka berikan kepada Kabupaten Tangerang. (Red)
Lebak, lensafokus.id — Makanan bukan sekadar kebutuhan biologis, melainkan bagian penting dari identitas budaya. Hal itu ditegaskan oleh Dosen Pascasarjana PBI FKIP Untirta Banten, Dr. Erwin Salpa Riansi, M.Pd, dalam bukunya Linguistik dan Khazanah Lokal Banten. Ia menjelaskan bahwa makanan merupakan hasil konstruksi budaya — manusia mengolah bahan dari alam melalui proses dan teknik tertentu sebelum akhirnya dikonsumsi.
Menurut Dr. Erwin, dalam perspektif kultural, makanan dapat dikategorikan ke dalam lima kelompok sebagaimana dijelaskan Arbal (1997:2). Kategori itu meliputi:
1. Makanan dan nonmakanan,
2. Makanan sakral atau suci,
3. Makanan pokok, tambahan, dan selingan,
4. Makanan berkhasiat obat atau kesehatan,
5. Makanan berdasarkan kategori usia.
Lebih jauh, ia mengutip Helman (1994:37) bahwa makanan dalam setiap masyarakat memiliki banyak peran dan sering berkaitan erat dengan aspek sosial, agama, hingga ekonomi. Ragam kuliner suatu daerah tidak hanya dipengaruhi lingkungan, tetapi juga adat istiadat, agama, etnisitas, hingga kepercayaan setempat. Hal inilah yang membuat makanan tradisional di Indonesia tetap lestari dengan ciri khas tersendiri — mulai dari resep turun-temurun hingga penggunaan alat dan teknik pengolahan tradisional.

Salah satu kuliner yang mendapat sorotan adalah Kue Jojorong, kudapan khas Banten yang hingga kini masih menjadi bagian dari kekayaan kuliner masyarakat.
“Termasuk Kue Jojorong, merupakan makanan tradisional dengan resep warisan turun-temurun,” ujar Dr. Erwin.
Dalam penelitiannya, Dr. Erwin menemukan terdapat 25 leksikon nama makanan tradisional khas Banten, khususnya di wilayah Pandeglang. Leksikon tersebut terbagi menjadi tiga kategori, yaitu:
1. Kudapan atau makanan ringan,
2. Makanan pengganti nasi (mengenyangkan),
3. Makanan pendamping nasi.
Dari kelompok tersebut, Kue Jojorong masuk dalam kategori kudapan, sejajar dengan beragam makanan tradisional Banten lainnya seperti Emping, Iwel, Leumeung, Talam, Gemblong, Apem, Pasung, Uli, Opak, Awug, Kanirem, Sasagon, Kikiping, Keceprek, Gipang, Balok Menes, Pais Ketug, hingga Kue Sorobaha. (Cecep)
Tangerang, lensafokus.id -- Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid secara resmi menutup MTQ ke-13 Kec. Teluknaga yang dilaksanakan di Desa Tanjung Burung, Minggu malam (16/11/25).
Dalam sambutannya, Bupayi Maesyal Rasyid mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasinya kepada seluruh panitia, peserta dan masyarakat Kec. Teluknaga yang bersama-sama telah menyukseskan MTQ ke-13 Kec. Teluknaga
"Kami ucapkan terima kasih kepada panitia, seluruh masyarakat, para tokoh, ulama dan seluruh peserta khususnya di Desa Tanjung Burung sebagai tuan rumah yang sudah bekerja keras dalam mempersiapkan dan menyelenggarakan MTQ ke-13 Kecamatan Teluknaga ini," ucap Bupati Maesyal Rasyid
Dia pun mengucapkan selamat dan memberikan pesan kepada para pemenang agar tidak terus larut dalam kegembiraan. Tetap menjaga performa dan berlatih dengan disiplin untuk menghadapi event MTQ tingkat Kabupaten Tangerang yang rencananya akan dilaksanakan pada bulan Januari 2026.
"Nanti para pemenang ini menjadi duta Kecamatan Teluknaga yang insyaAllah nanti antara tanggal 5 atau tanggal 8 Januari 2026 akan diselenggarakan MTQ tingkat kabupaten Tangerang di Kecamatan Pagedangan. Tetap disiplin berlatih dan terus semangat," ujarnya
Sementara itu, Sekda Soma Atmaja yang juga Ketua LPTQ Kab. Tangerang mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaanya atas penyelenggaraan MTQ tingkat kecamatan yang digelar dengan sangat baik dan meriah.
"Penyelenggaraan MTQ tingkat kecamatan yang digelar hampir berbarengan di seluruh kecamatan sudah berlangsung sejak minggu yang lalu. Alhamdulillah penyelenggaraannya begitu luar biasa begitu antusias masyarakat memeriahkan MTQ," ujarnya.
Pihaknya berharap kepada seluruh LPTQ kecamatan bisa bergerak cepat untuk melakukan pembinaan dan pendampingan kepada seluruh pemenang yang akan mewakili kecamatannya masing-masing pada MTQ Tingkat Kabupaten Tangerang pada bulan Januari 2026.
Camat Teluknaga, Kurnia melaporkan MTQ ke-13 Kec. Teluknaga tersebut diikuti oleh 13 desa dengan memperlombakan 7 cabang dan 10 arena.
"Jumlah peserta 350 orang, mewakili 13 desa se-Kecamatan Teluknaga, peserta-peserta ini merupakan terbaik di MTQ tingkat desa," ungkap Kurnia.
Adapun keluar sebagai juara umum MTQ ke-13 Tingkat Kec. Teluknaga adalah Desa Bojong Renged, peringkat kedua Desa Teluknaga dan ketiga diraih kafilah dari Desa Keboncau. (Red)
Kota Tangerang, lensafokus.id – Penutupan Cisadane Digital Festival (CDF) 2025 berlangsung meriah pada Minggu (16/11/2025), ditandai dengan apresiasi mendalam dari Wakil Wali Kota Tangerang, H. Maryono Hasan, yang secara resmi menutup rangkaian acara tersebut. Ia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas suksesnya penyelenggaraan festival yang tahun ini berhasil menarik lebih dari 70 ribu pengunjung selama lima hari pelaksanaan di bantaran Sungai Cisadane, mulai dari belakang Robinson hingga Jembatan Kaca.
Maryono menyebut, perpaduan unsur budaya, ekonomi kreatif, kesenian, atraksi, dan inovasi digital menjadi daya tarik kuat yang mampu menggerakkan masyarakat untuk datang dan menikmati berbagai rangkaian acara. Tak hanya menciptakan keramaian, CDF 2025 juga menorehkan catatan penting dalam geliat ekonomi daerah.
“Festival ini telah menghasilkan perputaran ekonomi yang sangat signifikan, mencapai Rp4,120 miliar selama lima hari pelaksanaannya,” ujar Maryono.

Menurutnya, antusiasme masyarakat, pelaku UMKM, serta komunitas kreatif menjadi bukti bahwa CDF telah berkembang menjadi ruang ekspresi, ruang usaha, sekaligus ruang hiburan edukatif yang memberi dampak besar bagi Kota Tangerang.
“Alhamdulillah, betapa besar antusiasme masyarakat dan pelaku UMKM. Komunitas kreatif semakin berkembang, dan masyarakat dapat menikmati hiburan yang edukatif,” tambahnya.
Melihat besarnya dampak ekonomi serta antusiasme yang terus meningkat, Maryono memastikan bahwa durasi festival tahun depan akan diperpanjang.
“Kalau tahun ini hanya lima hari sudah menghasilkan dampak ekonomi yang besar, banyak pelaku usaha berharap waktunya diperpanjang. Tahun depan insyaallah akan kami wujudkan menjadi seminggu penuh atau lebih,” tegas Maryono.
Dalam kesempatan tersebut, Maryono juga memaparkan rencana jangka panjang Pemerintah Kota Tangerang untuk menjadikan bantaran Sungai Cisadane sebagai kawasan wisata budaya dan ekonomi yang berkelanjutan.
“Insyaallah dari Benteng sampai belakang Istana Nelayan akan kami kembangkan sebagai kawasan Cisadane yang memberikan manfaat dan kesejahteraan bagi masyarakat Kota Tangerang. Kami juga akan mengundang para investor untuk menanamkan modal di kota ini,” tutupnya. (Sumarna)