Items filtered by date: Saturday, 10 October 2026

Tangerang, lensafokus.id – PT. BPR Kerta Raharja Gemilang (Perseroda) menggelar kegiatan Literasi dan Edukasi Keuangan yang diikuti ratusan mahasiswa, akademisi, serta sejumlah pemangku kepentingan sektor keuangan.

Kegiatan dihadiri Wakil Bupati Tangerang Intan Nurul Hikmah, Wakil Rektor Universitas Insan Pembangunan Indonesia (UNIPI), perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) wilayah Banten, Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Kabupaten Tangerang dan kalangan akademisi, yang berlangsung di Auditorium Saba Karya, Sabtu (10/10/2026).

Sebagai bentuk meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai pentingnya literasi keuangan, pengelolaan keuangan secara bijak, serta pemanfaatan produk dan layanan jasa keuangan yang aman dan bertanggung jawab.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Tangerang Intan Nurul Hikmah mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut sebagai langkah nyata dalam meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap pentingnya pengelolaan keuangan.

Menurutnya, literasi keuangan menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk membangun kemandirian finansial, menentukan prioritas kebutuhan, membiasakan diri menabung, serta mengambil keputusan keuangan secara tepat di tengah perkembangan teknologi dan layanan keuangan digital.

“Saya mengapresiasi kegiatan literasi dan edukasi keuangan yang diselenggarakan PT. BPR Kerta Raharja Gemilang (Perseroda). Kegiatan ini sangat penting untuk membekali generasi muda dengan pemahaman keuangan yang baik, sehingga mereka mampu mengelola uang secara bijak, membedakan kebutuhan dan keinginan,” ujar Intan.

Wabup Intan berharap kegiatan edukasi semacam ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak kalangan, termasuk ibu-ibu, pekerja buruh, serta masyarakat umum.

"Saya mengajak para mahasiswa untuk memanfaatkan kesempatan tersebut dengan menggali pengetahuan sebanyak-banyaknya mengenai pengelolaan keuangan, budaya menabung, serta pentingnya mengenali risiko penipuan dan berbagai tawaran investasi yang tidak memiliki legalitas jelas," kata Wabup Intan.

Sementara itu, Direktur PT. BPR Kerta Raharja Gemilang (Perseroda), Ai Suherlan, menjelaskan bahwa kegiatan literasi dan edukasi keuangan merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap layanan perbankan sekaligus mendorong terciptanya masyarakat yang semakin cerdas dan mandiri secara finansial.

Menurut Ai Suherlan, mahasiswa sebagai generasi muda perlu memiliki pemahaman keuangan sejak dini agar mampu mengatur pemasukan dan pengeluaran, menyusun perencanaan keuangan, serta memahami manfaat dan risiko dari produk maupun layanan keuangan yang digunakan.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan pemahaman bahwa literasi keuangan bukan sekadar mengetahui produk perbankan, tetapi juga bagaimana seseorang mampu mengambil keputusan keuangan secara bijak dan bertanggung jawab,” jelas Ai Suherlan.

Ia menambahkan, PT. BPR Kerta Raharja Gemilang (Perseroda) akan terus berupaya mengambil peran dalam mendukung peningkatan literasi dan inklusi keuangan melalui kegiatan edukasi, sosialisasi, serta kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan otoritas terkait.

"Melalui sinergi tersebut, perusahaan berharap masyarakat semakin memahami pentingnya perencanaan keuangan, memanfaatkan layanan perbankan sesuai kebutuhan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap praktik keuangan ilegal," ungkapnya.

Salah satu mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut Elva Risi, mengungkapkan bahwa literasi dan edukasi keuangan memberikan wawasan baru mengenai cara mengelola keuangan secara lebih terencana, terutama bagi mahasiswa yang mulai belajar mandiri dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Menurut saya, kegiatan ini sangat bermanfaat karena memberikan pemahaman tentang pentingnya mengatur keuangan sejak masih kuliah. Kami jadi lebih memahami bagaimana membedakan kebutuhan dan keinginan, menyisihkan uang untuk tabungan, serta lebih berhati-hati terhadap tawaran keuangan yang belum jelas kebenarannya,” ungkapnya.

Published in Banten

KALIMANTAN BARAT, lensafokus.id — Setelah terpisah selama hampir enam dekade, para penyintas peristiwa Mangkok Merah 1967 di Kalimantan Barat kembali dipertemukan dalam sebuah reuni yang sarat emosi. Pertemuan tersebut menjadi momen berharga bagi mereka untuk mengenang masa lalu, merajut kembali persaudaraan, sekaligus berbagi kisah pahit yang selama puluhan tahun tersimpan dalam ingatan.

Suasana haru menyelimuti ruang pertemuan. Tawa sesekali terdengar ketika para penyintas mengenang kebersamaan pada masa lalu. Namun, di balik senyum yang mengembang, tersimpan kesedihan mendalam atas kehilangan keluarga, kampung halaman, serta kehidupan yang pernah mereka bangun.

Sebagian peserta kini telah berusia lanjut. Ada yang berjalan dengan bantuan tongkat, ada pula yang harus duduk di kursi untuk mengikuti rangkaian pertemuan. Meski usia telah membatasi gerak mereka, ingatan tentang peristiwa kelam tersebut masih membekas kuat.

Bagi mereka, reuni ini bukan sekadar pertemuan biasa. Ini adalah kesempatan untuk kembali berjumpa dengan orang-orang yang pernah menjadi bagian dari kehidupan mereka sebelum tragedi memisahkan keluarga dan mengubah perjalanan hidup selama puluhan tahun.

Kisah yang dibagikan para penyintas menggambarkan betapa beratnya kehidupan yang harus mereka lalui pada masa itu. Peristiwa Mangkok Merah 1967 menjadi bagian kelam sejarah Kalimantan Barat, terutama bagi masyarakat yang terdampak konflik dan kekerasan pada periode tersebut.

Mereka mengenang bagaimana situasi di kampung halaman berubah menjadi penuh ketakutan. Ancaman keselamatan membuat banyak keluarga tidak memiliki pilihan selain meninggalkan rumah dan mencari tempat yang dianggap lebih aman.

Perjalanan pengungsian bukan perkara mudah. Mereka harus melewati hutan, menyeberangi sungai, serta menempuh perjalanan panjang dengan bekal dan perlengkapan yang terbatas. Dalam kondisi penuh ketidakpastian, keselamatan menjadi satu-satunya tujuan.

Sebagian penyintas harus menerima kenyataan pahit kehilangan orang tua, saudara, maupun anggota keluarga lainnya. Ada yang tidak pernah kembali bertemu dengan orang-orang terkasih hingga bertahun-tahun kemudian.

Rumah, kebun, harta benda, dan berbagai sumber penghidupan yang telah dibangun selama bertahun-tahun terpaksa ditinggalkan. Bagi mereka yang mengungsi, kehilangan tersebut bukan hanya soal materi, melainkan juga hilangnya tempat berpijak dan kehidupan yang selama ini menjadi bagian dari identitas keluarga.

Dalam situasi yang mereka kenang sebagai masa penuh ancaman, ruang untuk meminta pertolongan terasa sangat terbatas. Pilihan yang tersedia seolah hanya bertahan, menyelamatkan keluarga yang masih bersama, dan terus berjalan mencari perlindungan.

Setelah menempuh perjalanan berat, para pengungsi menuju Pontianak dan sejumlah tempat penampungan. Namun, tibanya mereka di tempat yang lebih aman tidak serta-merta mengakhiri penderitaan.

Menurut kisah yang dibagikan dalam pertemuan tersebut, tempat penampungan dipenuhi pengungsi. Gudang dan bangunan lain digunakan untuk menampung mereka, sementara sejumlah fasilitas, termasuk sekolah, turut dimanfaatkan untuk menampung warga yang membutuhkan perlindungan.

IMG 20261010 WA0047

Kondisi tempat tinggal yang tidak layak, keterbatasan makanan, serta padatnya penghuni menjadi tantangan besar. Kebutuhan dasar sulit terpenuhi, sementara banyak keluarga harus memulai kehidupan dari nol tanpa harta benda maupun sumber penghasilan yang memadai.

Dalam keadaan serba terbatas itu, para pengungsi menghadapi berbagai risiko, termasuk jatuh sakit dan kehilangan anggota keluarga. Kenangan mengenai orang-orang yang meninggal selama masa sulit tersebut masih menjadi bagian menyedihkan dari perjalanan hidup mereka.

Dampak pengungsian juga dirasakan oleh masyarakat Pontianak. Bertambahnya jumlah warga yang membutuhkan tempat tinggal, makanan, dan bantuan kehidupan memberikan tekanan terhadap kondisi sosial dan ekonomi kota pada masa itu.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa dampak konflik tidak berhenti pada wilayah terjadinya kekerasan. Gelombang pengungsian turut memengaruhi kehidupan masyarakat di daerah tujuan, yang harus menghadapi kebutuhan kemanusiaan dalam skala besar.

Enam puluh tahun merupakan waktu yang panjang. Banyak hal berubah, generasi berganti, dan sebagian orang yang dahulu bersama-sama melewati masa sulit mungkin telah tiada.

Namun, pertemuan para penyintas membuktikan bahwa ikatan persaudaraan dan ingatan tentang kampung halaman tetap bertahan.

Di ruang reuni, cerita demi cerita mengalir. Ada kisah yang disampaikan dengan senyuman, tetapi tidak sedikit yang membuat suasana berubah hening. Kenangan tentang perjalanan menyelamatkan diri, kehilangan keluarga, dan perjuangan bertahan hidup menghadirkan kembali perasaan yang mungkin selama bertahun-tahun sulit diungkapkan.

Bagi para penyintas, bertemu kembali dengan orang-orang yang memiliki pengalaman serupa menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan. Mereka tidak hanya bertukar kabar, tetapi juga saling memahami luka yang lahir dari pengalaman sejarah yang sama.

Reuni ini sekaligus menjadi kesempatan untuk menjaga ingatan kolektif agar kisah para korban tidak hilang ditelan waktu. Pengalaman mereka merupakan bagian dari sejarah kemanusiaan yang perlu didokumentasikan secara hati-hati, dengan menghormati martabat para penyintas dan keluarga yang terdampak.

Sejarah kelam tidak seharusnya hanya dikenang melalui angka korban atau catatan peristiwa. Di balik setiap tragedi, terdapat manusia dengan keluarga, cita-cita, rumah, dan kehidupan yang pernah mereka jalani.

Kesaksian para penyintas Mangkok Merah 1967 mengingatkan bahwa konflik dapat meninggalkan luka lintas generasi. Kehilangan keluarga, pengungsian, dan terputusnya hubungan persaudaraan merupakan pengalaman yang dampaknya dapat bertahan jauh setelah kekerasan berakhir.

Karena itu, kisah mereka penting untuk diwariskan kepada generasi muda. Bukan untuk membuka kembali permusuhan, melainkan untuk menumbuhkan pemahaman mengenai nilai kemanusiaan, pentingnya perdamaian, serta bahaya kekerasan yang menjadikan masyarakat sebagai korban.

Pertemuan setelah hampir 60 tahun itu menjadi simbol bahwa waktu dapat berjalan, tetapi ingatan tidak selalu hilang. Di antara tawa, air mata, dan cerita masa lalu, para penyintas kembali menemukan ruang untuk saling menguatkan.

Bagi mereka, reuni tersebut bukan sekadar mengenang apa yang telah hilang. Lebih dari itu, pertemuan ini menjadi bukti bahwa persaudaraan masih dapat dirajut kembali, bahkan setelah melewati masa paling sulit dalam kehidupan.

Published in Nasional

Tangerang, lensafokus.id - Wakil Bupati Tangerang, Intan Nurul Hikmah, membuka Festival Olahraga Masyarakat Kabupaten Tangerang (FORKAB) Ke-1 Tahun 2026, di kawasan Taman Tugu Titik Nol Tigaraksa, Sabtu (10/10/26). Kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya menggemakan semangat olahraga rekreasi, meningkatkan kebugaran, serta melestarikan olahraga tradisional di tengah masyarakat Kabupaten Tangerang.

Dalam sambutannya, Wabup Intan menyampaikan apresiasi kepada Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kabupaten Tangerang dan seluruh panitia yang telah bekerja keras menyelenggarakan kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa FORKAB bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan momentum untuk mempererat silaturahmi, membangun kebersamaan, dan menanamkan nilai-nilai sportivitas antarwarga.

"FORKAB Ke-1 ini bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan momentum penting untuk menggemakan semangat rekreasi, kebugaran, dan pelestarian olahraga tradisional di tengah masyarakat. Melalui olahraga masyarakat, kita tidak hanya mengejar kesehatan fisik, tetapi juga mempererat silaturahmi, membangun kebersamaan, dan menanamkan nilai-nilai sportivitas antarwarga Kabupaten Tangerang," ujar Wabup Intan.

Menurutnya, olahraga rekreasi dan tradisional memiliki peran strategis dalam menjaga kearifan lokal sekaligus memperkuat keharmonisan sosial di tengah pesatnya modernisasi. Melalui berbagai cabang olahraga yang dilombakan, masyarakat dari berbagai usia dan latar belakang dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang inklusif, menyenangkan, dan mengedepankan kebersamaan.

"Olahraga masyarakat mengajarkan kita bahwa menjaga kebugaran tidak selalu harus rumit, tetapi bisa diciptakan melalui suasana keceriaan dan kebersamaan," ungkapnya.

Wabup Intan mengatakan, Pemerintah Kabupaten Tangerang berkomitmen untuk terus mendukung program pembinaan olahraga rekreasi bersama KORMI dan seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, tingkat kebugaran masyarakat merupakan modal mendasar dalam membangun daerah yang maju dan berdaya saing.

Ia berharap FORKAB Ke-1 dapat melahirkan pegiat olahraga berprestasi hingga tingkat provinsi maupun nasional. Selain itu, festival ini diharapkan mampu menginspirasi keluarga di Kabupaten Tangerang untuk menjadikan gaya hidup sehat dan aktif sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari.

"Saya berharap ajang FORKAB Ke-1 ini dapat melahirkan pegiat-pegiat olahraga yang berprestasi hingga tingkat provinsi maupun nasional, sekaligus menginspirasi seluruh keluarga di Kabupaten Tangerang untuk menjadikan gaya hidup sehat dan aktif sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari," tegasnya.

Ia juga mendorong agar FORKAB diselenggarakan secara berkelanjutan sehingga dapat menjadi wadah bagi seluruh lapisan masyarakat untuk berpartisipasi dalam olahraga masyarakat. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan berkontribusi terhadap terwujudnya Kabupaten Tangerang yang lebih sehat, bugar, dan gembira.

Pada kesempatan tersebut, Wabup Intan secara resmi membuka FORKAB Ke-1 Tahun 2026. Ia mengajak seluruh peserta untuk menjaga semangat kebersamaan dan keharmonisan selama mengikuti festival serta menjadikan olahraga sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Ketua Pelaksana FORKAB Ke-1 Tahun 2026, Zainal Muttaqien, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan budaya berolahraga, meningkatkan kebugaran, melestarikan olahraga tradisional, serta memperkuat silaturahmi dan persaudaraan masyarakat di 29 kecamatan dan lingkungan sekolah se-Kabupaten Tangerang.

Ia menjelaskan, FORKAB Ke-1 Tahun 2026 diikuti 1.764 peserta yang berpartisipasi dalam delapan jenis olahraga masyarakat. Peserta berasal dari 29 kecamatan serta sekolah tingkat SMP/MTs dan SMA/SMK/MA se-Kabupaten Tangerang.

“Adapun delapan jenis olahraga yang dipertandingkan meliputi egrang, terompah panjang, lari balok, dagongan, hadang, bola sundul, e-sport Mobile Legends, dan senam pencegahan osteoporosis,” jelasnya.

Menurut Zainal, penyelenggaraan berbagai cabang olahraga tersebut diharapkan mampu memberikan ruang bagi masyarakat dan pelajar untuk menunjukkan kemampuan, mengembangkan minat, serta membangun semangat kompetisi yang sehat.

FORKAB Ke-1 Tahun 2026 berlangsung selama dua hari, yakni 10–11 Oktober 2026, dengan menggunakan empat lokasi pertandingan, yaitu Gedung Serba Guna (GSG) Tigaraksa, Lapangan Tenis PU, Lapangan Maulana Yudha Negara, serta area dari Kantor Inspektorat hingga Kantor Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Tangerang.

Ia menambahkan, seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan berdasarkan petunjuk teknis yang telah disiapkan panitia sebagai pedoman pelaksanaan. Dengan demikian, pertandingan diharapkan berlangsung tertib, aman, dan menjunjung tinggi sportivitas.

“Kami berharap seluruh peserta dapat bertanding dengan semangat kebersamaan, menghormati keputusan wasit dan juri, serta menjadikan FORKAB ini sebagai ajang untuk memperkuat persaudaraan antarkecamatan dan antarsekolah,” ujarnya. (Red)

Published in Banten
Go to top