CIANJUR, lensafokus.id – Kesabaran warga Kampung Cidadap, Desa Sukakerta, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, tampaknya telah mencapai batas. Setelah hampir satu dekade menanti pembangunan jembatan gantung yang tak kunjung terealisasi, jeritan mereka akhirnya meledak ke ruang publik melalui video yang viral di media sosial.
Video tersebut memperlihatkan realitas pahit yang setiap hari dihadapi warga. Di tengah derasnya aliran Sungai Cibuni, masyarakat masih harus mengandalkan rakit sederhana sebagai satu-satunya akses penyeberangan. Kondisi yang dinilai tidak manusiawi itu kini mengundang gelombang simpati sekaligus pertanyaan besar terhadap perhatian pemerintah terhadap daerah pelosok.
Dalam video yang beredar luas, warga memohon langsung kepada Gubernur Jawa Barat yang akrab disapa KDM atau "Bapak Aing" agar turun tangan menyelesaikan persoalan yang sudah bertahun-tahun membelenggu kehidupan mereka.
Bagi warga Cidadap, jembatan gantung bukan sekadar proyek pembangunan. Jembatan itu adalah harapan, keselamatan, dan masa depan.
Setiap hari, anak-anak sekolah harus menghadapi risiko saat menyeberang sungai. Ibu hamil dan warga yang sakit kesulitan mengakses layanan kesehatan. Para petani pun harus berjibaku membawa hasil panen melewati jalur yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi ancaman maut ketika hujan turun dan debit sungai meningkat.
Tokoh pemuda Kampung Cidadap, Bang Bang Suryana, mengungkapkan bahwa perjuangan masyarakat bukan baru dimulai kemarin. Sejak tahun 2017, berbagai proposal dan permohonan telah diajukan kepada pemerintah daerah.
"Kami sudah berjuang sejak tahun 2017. Tahun 2021 kami kembali mengajukan. Tahun 2023, 2024 sampai 2025 kami terus mendatangi dinas terkait dan memasukkan proposal. Tapi sampai hari ini belum ada realisasi pembangunan jembatan gantung yang kami harapkan," ungkapnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan panjangnya perjuangan warga yang seolah berjalan di tempat. Pergantian pejabat demi pejabat, kepala bidang demi kepala bidang, ternyata belum mampu melahirkan solusi nyata bagi kebutuhan masyarakat yang sangat mendesak.
Ironisnya, di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur di berbagai daerah, warga Cidadap masih harus bergantung pada rakit untuk menjalani aktivitas sehari-hari.
Kondisi ini memunculkan kekecewaan mendalam di kalangan masyarakat. Mereka mempertanyakan mengapa kebutuhan dasar yang menyangkut keselamatan warga belum juga menjadi prioritas.
Tak hanya pemerintah daerah, sejumlah warga juga menyoroti minimnya dorongan dari Pemerintah Desa Sukakerta dalam mengawal aspirasi masyarakat hingga ke tingkat kabupaten maupun provinsi.
"Kami hanya ingin diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai aspirasi yang sudah kami suarakan bertahun-tahun terus berakhir tanpa hasil," ujar seorang warga.
Bagi masyarakat Kampung Cidadap, keterlambatan pembangunan jembatan gantung bukan hanya soal tertundanya proyek fisik. Lebih dari itu, keterlambatan tersebut telah memperpanjang penderitaan warga yang setiap hari harus hidup berdampingan dengan risiko kecelakaan dan keterisolasian.
Kini, setelah video mereka viral dan menjadi perhatian publik, harapan baru kembali muncul. Warga berharap pemerintah tidak lagi sekadar mendengar, tetapi segera mengambil langkah konkret.
Sebab bagi masyarakat Cidadap, waktu terus berjalan. Sementara jembatan yang mereka impikan sejak 2017 masih sebatas harapan yang menggantung di atas derasnya Sungai Cibuni.
"Harapan kami sederhana. Kami hanya ingin menyeberang dengan aman. Kami ingin anak-anak berangkat sekolah tanpa rasa takut. Kami ingin jembatan yang sudah lama kami perjuangkan benar-benar dibangun," tutup warga penuh harap. (Asp)
KOTA TANGERANG, lensafokus.id – Kontingen Senam Gymnastic Kota Tangerang kembali menunjukkan kesiapannya menghadapi ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Provinsi Banten 2026. Sebanyak 13 atlet terbaik diberangkatkan menuju Kota Cilegon untuk berlaga pada kompetisi olahraga pelajar bergengsi tingkat Provinsi Banten yang akan berlangsung pada 12 hingga 14 Juni 2026.
Pelepasan kontingen dilakukan langsung oleh Ketua Senam Gymnastic Kota Tangerang, Sumarti, didampingi Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres) Heru serta Pelatih Senam Gymnastic, Suhenda.
Keberangkatan para atlet ini menjadi bukti komitmen Kota Tangerang dalam melakukan pembinaan olahraga pelajar, khususnya cabang Senam Gymnastic yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung medali dalam berbagai kejuaraan tingkat daerah maupun provinsi.
Ketua Senam Gymnastic Kota Tangerang, Sumarti, mengaku optimistis timnya mampu kembali mempertahankan tradisi prestasi dengan merebut gelar juara umum seperti pada penyelenggaraan POPDA sebelumnya.
"Dalam ajang POPDA ini kami siap mempertahankan gelar juara umum Senam Gymnastic seperti tahun-tahun sebelumnya. Atlet-atlet yang berangkat sudah dipersiapkan secara maksimal untuk bersaing di setiap nomor yang dipertandingkan dan kembali membawa pulang gelar juara umum tahun ini," ujar Sumarti usai melepas keberangkatan atlet.
Sementara itu, Binpres Heru menjelaskan bahwa persiapan kontingen telah dilakukan jauh hari melalui program latihan intensif, uji coba pertandingan, hingga pembinaan mental bertanding.

Menurutnya, 13 atlet yang diberangkatkan merupakan hasil seleksi ketat dan memiliki kemampuan terbaik di masing-masing nomor pertandingan.
"Anak-anak sudah kami tempa secara fisik, teknik, dan mental. Kami tidak hanya menargetkan medali, tetapi juga ingin menunjukkan bahwa pembinaan Senam Gymnastic di Kota Tangerang berjalan secara konsisten dan mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi," kata Heru.
Di sisi lain, Pelatih Senam Gymnastic Kota Tangerang, Suhenda, menegaskan bahwa kondisi para atlet saat ini berada dalam performa terbaik menjelang pertandingan.
Fokus latihan terakhir, kata dia, diarahkan pada penyempurnaan teknik, kerapihan gerakan, ekspresi artistik, serta meminimalisasi kesalahan-kesalahan kecil yang dapat memengaruhi penilaian juri.
"Kami meminta anak-anak tampil lepas namun tetap fokus. Penilaian juri pada POPDA sangat detail, sehingga setiap gerakan harus dilakukan dengan bersih dan sempurna. Target kami jelas, berusaha menguasai seluruh nomor yang dipertandingkan," tegas Suhenda.
POPDA Banten 2026 di Kota Cilegon tidak hanya menjadi ajang perebutan prestasi tingkat daerah, tetapi juga menjadi salah satu tahapan seleksi atlet pelajar menuju kompetisi tingkat nasional. (Sumarna)