Kota Tangerang, lensafokus.id - Antusiasme peserta dalam Wali Kota Cup Gimnastik Tangerang Open 2026 terus meningkat. Memasuki penyelenggaraan ketiga, ajang ini menargetkan 400 peserta, namun jumlah pendaftar justru melampaui target dengan lebih dari 500 peserta dari berbagai daerah ambil bagian.
Wakil Wali Kota Tangerang, H. Maryono, turut mengapresiasi tingginya partisipasi tersebut. Menurutnya, meningkatnya jumlah peserta menunjukkan bahwa olahraga gimnastik semakin berkembang dan mendapat perhatian masyarakat.
“Terima kasih atas kerja samanya. Terus tingkatkan prestasi anak-anak, para atlet dan juga masyarakat Kota Tangerang, agar cabang olahraga gimnastik semakin dikenal masyarakat, berkembang, dan berjaya di Kota Tangerang,” ujar Maryono saat membuka Kejuaraan Gymnastics Tangerang Open 2026, di Tangerang Convention Center (TCC), Sabtu (26/09/2026).
Menurut Maryono, kompetisi menjadi bagian dari proses pembinaan atlet, terutama dalam menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Banten yang akan datang. Ia menyebut, olahraga senam merupakan salah satu cabang olahraga yang turut menopang prestasi Kota Tangerang pada gelaran sebelumnya.
“Dalam waktu dekat, kita akan melakukan Pekan Olahraga Provinsi. Kota Tangerang selalu mendapatkan banyak juara dan penghargaan. Salah satu penyumbang besar untuk juara umum tahun lalu adalah dari cabang olahraga senam,” katanya.
Oleh karena itu, Maryono, mengajak para atlet, pelatih, pengurus, dan seluruh pihak menjaga semangat latihan serta kompetisi. Menurutnya, semakin banyak kesempatan bertanding, semakin banyak pula ruang bagi atlet untuk mengukur dan mengembangkan kemampuannya.
“Kami, Pemerintah Kota Tangerang, mengucapkan terima kasih dan siap berjuang bersama-sama dengan cabang olahraga lainnya untuk menghadirkan prestasi, agar Kota Tangerang di tahun 2026 ini tetap menjadi juara umum,” tuturnya.
Ia berharap, Gymnastics Tangerang Open 2026 ini, tidak sekadar melahirkan pemenang, tetapi juga menjadi ruang bagi atlet muda untuk mengasah mental, menambah pengalaman, dan menyiapkan langkah menuju kompetisi yang lebih tinggi.
“Selamat bertanding dan jadikan kompetisi ini sebagai ruang bagi para atlet muda untuk mendapatkan pengalaman, membangun mental bertanding, dan terus berkembang menuju level yang lebih tinggi,” pungkas Maryono. (Sumarna)
Kota Tangerang, lensafokus.id - Deru roda dan adrenalin persaingan mewarnai Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Sepatu Roda “Tangerang Open Speed (TOS) Marathon 2026” yang diikuti sejumlah atlet dari berbagai daerah di kawasan Pusat Pemerintahan Kota Tangerang, Sabtu (26/09/2026).
Kejuaraan yang memperebutkan Piala Wali Kota dan Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Porserosi) Tangerang itu, berlangsung 25–27 September 2026. Bagi para atlet, ajang ini menjadi kesempatan menguji kemampuan, menambah pengalaman, sekaligus mengukur kesiapan menghadapi kompetisi berikutnya.
Dalam sambutannya, Wali Kota Tangerang H. Sachrudin, mengatakan kejuaraan bukan sekadar pertandingan, tetapi bagian dari proses yang memberi ruang bagi atlet untuk berkembang. Pengalaman bertanding, menurutnya, menjadi bekal penting dalam perjalanan atlet menuju level yang lebih tinggi.
“Selain untuk meraih prestasi, ajang Kejurnas Sepatu Roda ini juga memberikan pengalaman berharga, menambah persahabatan, sekaligus membangkitkan semangat untuk terus memajukan olahraga, khususnya sepatu roda di Kota Tangerang maupun Indonesia,” tuturnya, saat membuka Kejurnas.
Dukungan pembinaan tersebut, juga diperkuat melalui rencana pembangunan fasilitas sepatu roda di Kota Tangerang. Pemerintah Kota Tangerang, melalui Dinas Pemuda dan Olahraga, berencana melakukan pembangunan fasilitas yang representatif guna mendukung Cabang Olahraga Sepatu Roda pada 2027.
Keberadaan fasilitas yang memadai, lanjut wali kota, itu penting agar atlet memiliki ruang latihan yang dapat menunjang perkembangan mereka.
“Dengan fasilitas yang memadai, kita harapkan para atlet bisa berlatih secara optimal dan terus mengembangkan kemampuan sehingga dapat meraih prestasi terbaik di kancah yang lebih tinggi,” ujar Sachrudin.
Sementara itu, Ketua Porserosi Kota Tangerang, Turidi Susanto, mengatakan fasilitas yang memadai penting untuk menjaga kesinambungan pembinaan atlet. Lapangan tersebut nantinya diharapkan dapat digunakan untuk latihan sekaligus penyelenggaraan kejuaraan.
“Pembangunan fasilitas olahraga sepatu roda yang representatif yang rencananya dilaksanakan tahun depan, diharapkan dapat memperkuat pembinaan atlet di Kota Tangerang. Dengan fasilitas yang lebih baik, kami berharap para atlet dapat berlatih dan berkembang, serta memiliki kesempatan mengikuti kompetisi di level yang lebih tinggi,” ujar Turidi. (Red)
Kota Tangerang, lensafokus.id - Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Banten bersama Dekranasda Kota Tangerang dan Dinas IndagkopUKM Kota Tangerang resmi bersinergi dalam pameran kerajinan Nusantara bergengsi, KriyaNusa 2026 yang berlangsung pada 26 hingga 30 September 2026 di Jakarta Convention Center (JCC).
Pameran bergengsi tahunan ini, menjadi ajang strategis bagi para perajin lokal untuk memamerkan karya unggulan, memperluas akses pasar nasional hingga mancanegara, serta memperkuat ekosistem ekonomi kreatif daerah.
Ketua Dekranasda Provinsi Banten Tinawati Andra Soni, mengungkapkan optimisme dan rasa bangganya terhadap keterlibatan para perajin Banten dalam ajang ini. Meskipun berbagai daerah tengah menghadapi kebijakan efisiensi anggaran, semangat kolaborasi antarstakeholder tetap tinggi untuk mendampingi para pelaku usaha kecil dan menengah.
"Melalui ajang ini, kami mendorong kerajinan khas Banten menembus pasar internasional. Keterwakilan daerah diisi oleh Kota Tangerang dan Kota Serang," ujar Tina.
Pada kesempatan tersebut, Rini Rizqiyyah Maryono selaku Wakil Ketua Dekranasda Kota Tangerang turut mengenalkan produk kerajinan tangan hasil karya asli putra daerah.
Menurutnya, Kota Tangerang memamerkan berbagai produk unggulan hasil karya perajin lokal, mulai dari tas rotan dan pandan bermotif batik, busana batik eco-print yang ramah lingkungan, hingga aneka aksesori gelang buatan tangan.
"Kami mengajak masyarakat luas untuk hadir dan meramaikan pameran KriyaNusa 2026 hingga 30 September mendatang. Mari larisi dan bangga menggunakan produk-produk lokal buatan Kota Tangerang," ajak Rini.
Di tempat sama, Kepala Dinas IndagkopUKM Kota Tangerang Suli Rosadi menjelaskan, Kota Tangerang memboyong sebanyak enam UMKM pilihan yang menampilkan produk-produk kerajinan unggulan berprestasi penerima UMKM Award, salah satunya inovasi tumbler berbahan dasar bambu.
"Kota Tangerang memang bukan kota berbasis wisata alam, namun melalui keunikan hasil kerajinannya, kami optimistis Kota Tangerang dapat menjadi destinasi tujuan wisata kriya bagi wisatawan luar daerah," tutur Suli. (Red)
Tangerang, lensafokus.id - Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) ke-3 Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kabupaten Tangerang yang dilaksanakan di Aula Pendopo Bupati Tangerang, Sabtu (26/09/26)
Dalam sambutannya, Bupati Maesyal Rasyid mengatakan musyawarah daerah bagi sebuah organisasi merupakan momentum penting bagi sebuah organisasi untuk melakukan evaluasi menyusun langkah ke depan sekaligus memperkuat konsolidasi organisasi. Untuk itu, dia berharap Musda tidak hanya menjadi forum penggantian dan penyusunan pengurus baru, namun juga mampu melahirkan solusi, baik untuk ICMI maupun pembangunan daerah
"Saya berharap Musda 3 Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Kabupaten Tangerang ini tidak hanya menjadi forum pergantian pengurus atau penyusunan pengurus tetapi juga menjadi ruang momentum melahirkan gagasan pemikiran dan rekomendasi yang konstruktif bagi pembangunan di Kabupaten Tangerang," ujar Bupati Maesyal
Ia mendorong ICMI sebagai wadah para cendekiawan muda agar terus menguatkan sinergi dan kolaborasi bersama pemerintah daerah dan organisasi lainnya untuk memajukan pembangunan. ICMI diharapkan mampu menjalankan fungsi gandanya, baik dalam rangka penguatan organisasi maupun kontribusinya yang dapat dirasakan masyarakat
"ICMI sebagai mitra pemerintah daerah diharapkan bisa berkiprah bersama-sama. Kolaborasinya bukan saja dengan pemerintah daerah, kecamatan, desa, kelurahan tapi juga dengan organisasi-organisasi lainnya untuk bisa memberikan kontribusi terhadap wilayah dan masyarakat di segala bidang," ungkapnya
Bupati Maesyal meminta segenap pengurus dan anggota ICMI Kab. Tangerang terus meningkatkan eksistensi dan kontribusinya bagi Kabupaten Tangerang. Kehadiran ICMI di tengah-tengah masyarakat dapat menjadi contoh dan menginspirasi pihak lainnya untuk dapat memberikan sumbangsih dan kontribusinya bagi kemajuan pembangunan di semua aspek kehidupan
"Saya yakin ICMI akan memberikan suri teladan dan contoh yang baik buat seluruh komponen masyarakat yang ada di Kabupaten Tangerang. Kembangkan terus program-program positif untuk masyarakat di seluruh wilayah Kabupaten Tangerang," tandasnya
Mengakhiri sambutannya, dia memberikan pesan dan arahan kepada semua peserta Musda agar tetap menjunjung tinggi kebersamaan, saling menghormati dan menjaga kondusifitas.
"Kami mohon semua pihak bisa saling menghormati, junjung tinggi kebersamaan dan kondusifitas agar Musda ini dapat menghasilkan keputusan terbaik bagi kelangsungan organisasi dan masyarakat," pungkasnya
Sementara itu, Ketua Pelaksana Musda ketiga ICMI Kab. Tangerang, Jahrudin mengatakan bahwa ICMI Kab. Tangerang siap mendukung program-program pembangunan daerah. ICMI berkomitmen untuk terus menguatkan sinergi dan kolaborasi bersama pemerintah daerah dalam memajukan pembangunan yang dilaksanakan.
'Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati Tangerang atas kehadiran dan arahannya. Ini menjadi penyemangat bagi kami semuanya agar menjadi lebih baik lagi," ujarnya. (Red)
TANGERANG, lensafokus.id — Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid meminta KONI Kabupaten Tangerang bersama seluruh pengurus cabang olahraga (Pengcab) memperkuat pembinaan dan mematangkan persiapan atlet agar mampu tampil maksimal berlaga pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Banten di Tangerang Selatan
Hal tersebut disampaikan Bupati Maesyal saat menghadiri Rapat Kerja (Raker) KONI Kabupaten Tangerang Tahun 2026 yang bertema “Sukses Organisasi, Gemilang Prestasi” yang digelar di Aula Gedung KONI Kabupaten Tangerang, Sabtu (26/9/26).
"Saya minta KONI bersama seluruh Pengcab terus memaksimalkan pembinaan dan latihan. Matangkan persiapan agar atlet kita tampil maksimal di Porprov nanti," pinta Bupati Maesyal.
Ia menegaskan, momentum Raker KONI tidak hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga harus dimanfaatkan untuk mengevaluasi sekaligus memperkuat strategi pembinaan atlet menghadapi kompetisi olahraga tingkat Provinsi Banten.
“Lakukan pembinaan kepada para atlet kita. Terlebih ini kita menjelang Porprov Banten yang akan digelar di Tangerang Selatan. Kita harus mempersiapkan para atlet kita supaya bisa meraih hasil maksimal,” ujarnya
Menurutnya, target prestasi membutuhkan kerja bersama yang solid dan matang. Karena itu, komunikasi dan kolaborasi antara KONI, Pengcab, pelatih, atlet serta seluruh pihak yang terlibat dalam pembinaan olahraga harus terus diperkuat.
“Pengcab harus berkolaborasi dengan pengurus KONI dan yang lainnya. Jalin komunikasi dan kerjasama yang intens dan kuat,” katanya.
Bupati Maesyal berharap seluruh program pembinaan yang dilaksanakan dapat berjalan secara terarah sehingga para atlet Kabupaten Tangerang benar-benar siap menghadapi persaingan di Porprov Banten.
Selain mengejar prestasi, ia juga mengingatkan agar seluruh atlet dan insan olahraga Kabupaten Tangerang tetap menjunjung tinggi sportivitas.
“Junjung tinggi sportivitas, jaga nama baik Kabupaten Tangerang, dan raih prestasi gemilang,” tegasnya.
Ia berharap Raker KONI Kabupaten Tangerang 2026 diharapkan menjadi titik penguatan konsolidasi organisasi sekaligus menyatukan langkah seluruh cabang olahraga dalam mempersiapkan atlet menghadapi berbagai agenda kompetisi.
"Dengan pembinaan yang berkelanjutan, kolaborasi antarpengurus dan persiapan yang matang, Kabupaten Tangerang terus mendorong agar prestasi olahraga dapat semakin berkembang dan memberikan kontribusi bagi nama baik daerah di tingkat Provinsi Banten maupun nasional," pungkasnya. (Red)
KAPUAS HULU, lensafokus.id — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Kapuas Hulu sepanjang 2026 menjadi peringatan bahwa penanganan kebakaran tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah membesar.
Kompleksitas persoalan, mulai dari kekeringan, kondisi ekologis, keterbatasan akses, aktivitas ekonomi, hingga perilaku masyarakat, menunjukkan perlunya strategi pencegahan yang lebih terintegrasi, terutama menghadapi potensi periode El Niño berikutnya.
Hasil sosialisasi dan penyuluhan Karhutla di Kapuas Hulu menemukan sejumlah persoalan sekaligus rekomendasi yang dapat menjadi bahan evaluasi pemerintah dan masyarakat.
Kapuas Hulu memiliki karakter wilayah yang sangat didominasi kawasan hutan dan konservasi. Berdasarkan data yang dihimpun dalam kegiatan tersebut, sekitar 55,50 persen wilayah merupakan taman nasional dan hutan lindung, 21,69 persen lahan pertanian, 19,52 persen hutan produksi, 2,42 persen lahan pertambangan, serta 0,59 persen berupa sungai dan danau.
Kondisi geografis tersebut membuat pendekatan penanganan Karhutla harus disesuaikan dengan karakter wilayah dan pola kehidupan masyarakat setempat.

Salah satu persoalan yang ditemukan adalah penurunan muka air Sungai Kapuas saat musim kering.
Kondisi tersebut dapat menghambat kapal pengangkut bahan bakar minyak (BBM), sehingga distribusi BBM tidak selalu berjalan tepat waktu. Dampaknya ikut dirasakan dalam mobilitas kegiatan penanganan kebakaran.
Namun, persoalan distribusi BBM tersebut masih membutuhkan kajian lebih lanjut, termasuk mengenai pola penggunaan BBM dan kemungkinan adanya kebutuhan lain dalam jumlah besar yang turut memengaruhi ketersediaan bagi masyarakat.
Di sisi lain, sejumlah titik api berada di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Kondisi geografis ini menjadi tantangan tersendiri bagi petugas pemadam.
Dalam situasi tertentu, kebakaran bahkan lebih banyak berhenti setelah api padam secara alami karena sulitnya akses menuju lokasi.
Temuan lapangan juga menunjukkan bahwa praktik pembakaran lahan memiliki latar belakang yang berbeda.
Bagi sebagian peladang, pembakaran merupakan bagian dari praktik pembukaan lahan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga dalam skala terbatas. Praktik tersebut memiliki aturan dan ketentuan daerah yang harus dipatuhi.
Persoalan menjadi lebih kompleks ketika pembakaran diduga berkaitan dengan pembukaan atau perluasan perkebunan sawit.
Karena itu, diperlukan penelitian dan pendataan yang lebih mendalam agar penanganan tidak menyamaratakan seluruh praktik pembakaran lahan.
Pembedaan antara pembukaan ladang masyarakat dengan aktivitas pembukaan lahan untuk kepentingan usaha menjadi penting agar kebijakan pencegahan dan penegakan aturan dapat dilakukan berdasarkan fakta lapangan.
Tanpa data yang kuat, perdebatan mengenai sumber kebakaran berpotensi berhenti pada saling tuding. Penelitian yang lebih mendalam dibutuhkan untuk mengetahui pola, penyebab, lokasi, serta pihak yang bertanggung jawab dalam setiap peristiwa kebakaran.

Dalam kegiatan lapangan ditemukan sejumlah tampungan air yang mengering serta lapisan tanah berpasir. Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena pengeringan gambut dapat meningkatkan risiko api bertahan di bawah permukaan ketika terjadi kebakaran.
Karakter angin yang cukup kuat juga dapat memperluas penyebaran material pembakaran ke wilayah sekitar.
Yang tidak kalah penting, kawasan Danau Sentarum memiliki ekosistem gambut yang disebut dalam materi kegiatan sebagai kawasan gambut purba dengan perkiraan usia sekitar 46.000–49.000 tahun dan kedalaman mencapai sekitar 18 meter.
Jika data usia tersebut merujuk pada penelitian ilmiah yang relevan, kawasan ini memiliki nilai penting dari sisi ekologis sekaligus sejarah lingkungan. Karena itu, setiap kebakaran di kawasan gambut tersebut perlu dipandang sebagai risiko terhadap aset ekologis yang tidak mudah dipulihkan.
Temuan lain muncul dari sejumlah desa yang menolak keberadaan perkebunan sawit. Di wilayah tersebut tidak ditemukan kebakaran dalam skala besar berdasarkan temuan lapangan yang disampaikan.
Kondisi tersebut dapat menjadi bahan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara pola penggunaan lahan, pilihan ekonomi masyarakat, dan risiko kebakaran.
Di tingkat masyarakat adat, sejumlah aturan pembatasan pembakaran sebenarnya telah diterapkan. Namun, persoalan muncul ketika masyarakat tidak melaporkan rencana pembukaan lahan kepada pemerintah desa.
Akibatnya, pemerintah desa kesulitan melakukan antisipasi, terutama jika lokasi pembukaan lahan berada jauh dari permukiman.
Hal ini menunjukkan pentingnya sistem pelaporan yang mudah dan cepat sehingga rencana pembukaan lahan dapat diketahui lebih awal dan langkah pencegahan dapat dilakukan.
Perizinan perkebunan berada pada pemerintah pusat melalui kementerian terkait. Kondisi tersebut membuat kewenangan inspeksi terhadap kesiapan perusahaan dalam menghadapi Karhutla juga berkaitan dengan kewenangan pemerintah pusat.
Di sisi lain, pemerintah daerah tetap memiliki tanggung jawab dalam penanggulangan kebakaran di wilayahnya.
Karena itu, diperlukan pembagian peran dan sistem pengawasan bersama yang lebih jelas antara pemerintah pusat dan daerah, khususnya menjelang periode kering berikutnya.
Salah satu rekomendasi yang mengemuka adalah penguatan fungsi Kapuas Hulu sebagai kawasan tangkapan air atau “bank air”.
Sebagai wilayah hulu Sungai Kapuas, pengelolaan air menjadi penting untuk menghadapi dua kondisi ekstrem sekaligus: banjir ketika curah hujan tinggi dan kekeringan saat musim kemarau panjang.
Konsep tersebut dapat dilakukan melalui pengelolaan cekungan air, perbaikan dan pendalaman saluran irigasi, serta pengaturan tata air untuk menjaga kelembapan lahan gambut.
Pengelolaan air juga dapat memberikan manfaat ganda, mulai dari mengurangi risiko kekeringan gambut, mendukung transportasi, hingga membantu pemenuhan kebutuhan pertanian sepanjang tahun.
Dengan pengelolaan yang tepat, potensi lahan pertanian juga dapat dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat.
Karhutla merupakan ancaman yang berulang di Kalimantan Barat. Karena itu, pendidikan masyarakat tidak dapat dilakukan hanya ketika musim kebakaran tiba.
Program edukasi perlu diarahkan pada perubahan pengetahuan dan perilaku, termasuk memperkenalkan metode pengelolaan lahan yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap pembakaran.
Masyarakat juga membutuhkan alternatif untuk meningkatkan produktivitas dan memperoleh sumber pangan tanpa meningkatkan risiko kebakaran.
Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu juga direkomendasikan mengembangkan layanan informasi digital terintegrasi yang mudah diakses melalui telepon seluler.
Layanan tersebut dapat memuat informasi cuaca, musim tanam, peternakan, perdagangan, pengaduan cepat, hingga materi edukasi pencegahan Karhutla.
Informasi cuaca dapat membantu masyarakat menentukan waktu tanam dan aktivitas pertanian. Sementara layanan pengaduan dapat mempercepat pelaporan potensi kebakaran maupun gangguan pelayanan publik.
Penguatan infrastruktur juga menjadi bagian penting dalam menghadapi musim kering.
Pemerintah perlu menyiapkan alternatif distribusi BBM ketika kondisi Sungai Kapuas mengalami pendangkalan dan transportasi sungai terganggu.
Perluasan jaringan listrik dan internet juga penting untuk mempercepat distribusi informasi, memperluas akses edukasi, serta membuka jalur pengaduan masyarakat di wilayah yang sulit dijangkau.
Kapuas Hulu sendiri memiliki potensi besar yang tidak hanya berasal dari sumber daya alam, tetapi juga dari ekosistem sungai, hutan, perikanan, gambut dan bentang alamnya.
Posisinya yang berbatasan langsung dengan Malaysia juga membuat penguatan sumber daya manusia, infrastruktur, dan ekonomi masyarakat menjadi bagian penting dari pengelolaan wilayah perbatasan.
Rangkaian temuan tersebut menunjukkan bahwa mitigasi Karhutla di Kapuas Hulu perlu bergeser dari pendekatan reaktif menuju pencegahan yang terintegrasi.
Pemetaan kawasan tangkapan air, pengelolaan gambut, kesiapan perusahaan, alternatif distribusi BBM, edukasi masyarakat, sistem informasi digital, penguatan infrastruktur, serta koordinasi kewenangan pemerintah pusat dan daerah perlu disiapkan sebelum musim kering tiba.
Karhutla bukan semata persoalan api. Di baliknya terdapat persoalan tata kelola air, penggunaan lahan, akses wilayah, ekonomi masyarakat, kesiapan infrastruktur, hingga kualitas informasi.
KOTA TANGERANG, lensafokus.id — Pemerintah Kecamatan Jatiuwung, Kota Tangerang, terus memperkuat sinergi lintas sektor dalam menangani permasalahan Anak Tidak Sekolah (ATS) di wilayahnya.
Camat Jatiuwung Buceu Gartina menggandeng sejumlah pemangku kepentingan, mulai dari unsur kelurahan, pendidikan, hingga Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kecamatan Jatiuwung.
Kolaborasi tersebut dilakukan untuk menyusun langkah strategis dalam menangani permasalahan ATS sekaligus menyosialisasikan program wajib sekolah 13 tahun kepada masyarakat.
“Kami terus berkoordinasi agar proses pendataan dan verifikasi bisa berjalan lancar. Nantinya, semua pihak akan turun tangan membantu memastikan akses pendidikan di semua tingkatan bisa dijangkau masyarakat dengan mudah,” ujar Buceu, Jumat (25/9/2026).
Saat ini, Pemerintah Kecamatan Jatiuwung masih melakukan proses verifikasi dan pemutakhiran data untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai kondisi Anak Tidak Sekolah di wilayah tersebut.
Menurut Buceu, proses pendataan dan verifikasi menjadi langkah penting sebagai dasar dalam menentukan kebijakan dan bentuk intervensi yang tepat, khususnya untuk membuka akses pendidikan yang lebih mudah bagi masyarakat.
“Kota Tangerang sendiri sudah mempunyai sejumlah program unggulan pendidikan mulai dari Beasiswa Tangerang Cerdas, Sekolah Swasta Gratis, sampai Sekolah Inklusi. Belum lagi di tingkatan pendidikan anak usia dini yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk mengakses pendidikan dengan mudah dan gratis,” tambahnya.
Ia berharap berbagai langkah yang dilakukan bersama pemangku kepentingan dapat membuka kesempatan yang lebih luas bagi anak-anak untuk memperoleh pendidikan. (Sumarn)