KOTA BOGOR, lensafokus.id — Pemerintah Kecamatan Tanah Sareal mematangkan berbagai persiapan untuk menyambut kunjungan kerja delegasi Pemerintah Pakistan bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). Kunjungan internasional yang dijadwalkan berlangsung pekan ini tersebut akan berfokus pada studi tiru program pelayanan Keluarga Berencana (KB) serta manajemen pengendalian jumlah penduduk.
Camat Tanah Sareal, Rokib, mengungkapkan bahwa pusat studi banding antarnegara tersebut dipusatkan di Kampung Tematik Kebon Pedes. Lokasi ini dinilai ideal karena memiliki kesamaan karakteristik geografis dan demografis, serta telah lolos seleksi di tingkat kota dan Provinsi Jawa Barat untuk maju ke tingkat nasional.
Dalam pemaparannya, Rokib menguraikan perkembangan wilayah Tanah Sareal sebagai kecamatan termuda di Kota Bogor. Memiliki luas 20,60 kilometer persegi, kecamatan ini dihuni oleh sekitar 239 ribu jiwa yang tersebar di 11 kelurahan dengan dinamika akulturasi budaya Betawi dan Sunda Bogor.
Kendati tumbuh pesat sebagai pusat pertumbuhan baru akibat urbanisasi, tantangan sosial seperti penanganan lebih dari 13 ribu warga miskin ekstrem tetap menjadi fokus utama melalui pemutakhiran data desil secara bertahap.
Di bidang tata kelola pemerintahan, Tanah Sareal menorehkan prestasi gemilang, di antaranya: memimpin persentase Identitas Kependudukan Digital (IKD) tertinggi di Kota Bogor, masuk dalam tiga besar terbaik nasional/daerah dalam penilaian pelayanan dan tupoksi pada 2025.
Tiga Program Inovasi Unggulan: Nguriling Lembur (pelayanan jemput bola dan Jumat Berbagi), Santuy (penataan PKL humanis dengan Sentra Kuliner resmi), Wasdalbang (pengawasan pembangunan melibatkan RT/RW).
Memasuki periode pembangunan 2026–2027, sejumlah proyek besar disiapkan di wilayah Tanah Sareal, mulai dari pembangunan SMAN baru di Kelurahan Kayumanis, perencanaan rumah sakit, hingga proyek infrastruktur lalu lintas.
Terkait perlintasan Kebon Pedes, Rokib mengonfirmasi adanya perubahan konsep dari rencana awal underpass menjadi pembangunan jembatan layang (flyover) yang ditargetkan mulai dikerjakan pada 2027. Skema ini dinilai lebih efisien dari segi anggaran, mengingat kontur tanah yang labil serta efisiensi pembebasan lahan yang rencananya dikerjakan bersama PT KAI dengan konsep menyerupai Flyover R.E. Martadinata.
Sementara itu, untuk proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kayumanis, pengerjaan saat ini masih berfokus pada pembukaan akses jalan dan cut and fill akibat kontur tanah yang cukup berat dengan beda ketinggian mencapai lebih dari 10 meter.
Menutup keterangannya, Rokib turut mengklarifikasi isu pemekaran wilayah yang sempat beredar di media massa. Ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada arahan atau petunjuk teknis resmi dari pemerintah pusat maupun instansi berwenang terkait wacana pemekaran maupun penggabungan wilayah di Tanah Sareal. (Zulfi kusuma)