Lensa Fokus | Media online dan Cetak Banten dan Nasional Hari ini

lensa fokus

Riska, Pemain Bola Voli  SMAN 1 Kampar Kiri, Kakinya Terancam Diamputasi.

Riska Ramadila, siswi SMAN I Kampar Kiri,  Provinsi Riau, kakinya terancam di amputasi.  Siswi berprestasi di bidang olah raga bola voli di sekolah tersebut, kini hanya pasrah dalam ketidakberdayaan karena keluarganya tidak mampu untuk  menanggung biaya pengobatan.

Menurut  Herianto, orang tua Riska, sesuai  dengan hasil diagnosa dokter di Kampar Kiri, anaknya itu terserang penyakit tumor dan harus segera berobat ke Rumah Sakit  di Jakarta,  karena di RS Kampar Kiri  belum tersedia untuk pengobatan jenis penyakit tersebut.

“Dari mana saya harus  menyediakan biaya untuk ke Jakarta dan biaya pengobatan,  untuk biaya  hidup sehari-hari saja sudah susah”, kata Herianto, kepada pers, Kamis (6/2).

Dijelaskan Herianyo, anaknya  sakit  di bagian lutut, karena terjatuh  saat  berlatih bermain  bola voli di sekolahnya sekitar bulan Juli 2019 lalu. Riska saat bermain volley sempat terjatuh dan di duga kaki di bagian lututnya membentur benda keras, sehingga menyebabkan memar dan sekarang  terus membengkak  dan semakin besar di bagian lutut.

“Kami sudah berusaha untuk berobat seperti ke tukang pijit tradisional  dan   berobat ke Puskesmas  dengan menggunakan Kartu BPJS. Tapi, bengkak di bagian lutut itu terus semakin membesar  dan menurut diagnosa  bahwa pembesaran tersebut disebabkan tumor”,kata Herianto.

Karena ekonomi pulalah, bengkak yang awalnya di alami Riska usai terjatuh ketika main bolavoli di sekolah pada Juli 2019 lalu, hanya diobati lewat urut tradisional. Memang, terlalu mahal buat anak pasangan Herianto dan Muzarniati ini mendatangi dokter atau ke klinik kalau hanya karena bengkak kecil di kaki.

Perkiraan hanya bengkak kecil ini salah. Kaki kanan Riska terus membengkak, bahkan kini sudah hampir menyamai besar ukuran kepalanya. Dua bulan setelah insiden jatuh di lapangan voli itu, atau pada September 2019, Riska tidak lagi bisa banyak bergerak. Dirinya hanya bisa terbaring lemah.

Bukan tidak mencoba ke rumah sakit. Mengandalkan BPJS Kesehatan lewat Kartu Indonesia Sehat, Riska sudah di bawa ke puskesmas. Lalu di rujuk ke salah satu rumah sakit di Pekanbaru. Namun apa daya. Memang biaya itu yang tidak ada. Informasi terakhir dari RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, Riska harus di rujuk ke Jakarta karena keterbatasan alat di rumah sakit tersebut.

Ketua Alumni SMAN I Kampar Kiri,  Ahmad Syukur,  kini tengah berusaha mencai bantuan ke sesama alumni  dan berbagai pihak,  agar  bisa membantu pengobatan Riska —(tim)

-::-Ter Viral-::-