Lensa Fokus | Media online dan Cetak Banten dan Nasional Hari ini

Banten

Museum Multatuli Bakal Gelar Pemutaran Perdana film dokumenter “Setelah Multatuli Pergi”

Museum Multatuli Bakal Gelar Pemutaran Perdana film dokumenter “Setelah Multatuli Pergi”

Lebak, lensafokus.id – Pada tahun 1987, Arjan Onderdenwijngaard, seorang warga negara Belanda, datang ke Lebak untuk pertama kalinya. Lebak, nama yang ia kenal sejak lulus Sekolah Menengah Atas lewat novel Max Havelaar.

Ketika tiba di Lebak, dia seperti terperangkap di ruang waktu. Tidak banyak yang berubah dari apa yang diceritakan Multatuli dalam novel yang dirilis 160 tahun lalu itu.

Apa yang Arjan saksikan dia dokumentasikan dengan video kamera, di tahun tepat pada 100 tahun meninggalnya Multatuli, seakan menyatakan: Buku yang Membunuh
Kolonialisme itu tidak memberikan dampak apapun terhadap warga Lebak.

Tiga puluh dua tahun kemudian, tahun 2019, Arjan kembali ke Lebak. Ia kembali
untuk menapak tilas sekaligus menyaksikan kehidupan warga Lebak pascareformasi, mencari mereka yang pernah ia temui dan rekam. Tapi kali ini Arjan tidak sendiri, ia mengajak beberapa narasumber bersamanya. Narasumber yang akan membantu menggali beberapa pertanyaan perihal kehidupan warga Lebak dan nasib buruk yang menghantui mereka.

Film ini dibuat sebagai ikhtiar melampaui perdebatan usang menyoal roman Max
Havelaar: Apakah ditulis berdasarkan fakta atau fiksi belaka? Film ini juga
mencuatkan sejumlah pertanyaan: apakah benar kehidupan rakyat mengalami perubahan yang drastis dan substansial dua abad setelah Multatuli pergi dan 75 tahun Indonesia merdeka? Apakah yang tersisa dari masa kolonial dalam kehidupan sehari-hari, yang merentang mulai dari panggung elit politik sampai warga biasa di pojokan kampung?

Film dokumenter “Setelah Multatuli Pergi” mencoba mencari jawaban atas sederet pertanyaan itu. Film ini akan perdana diputar di pendopo museum multatuli Kabupaten Lebak, Sabtu (07/03/2020), mulai pukul 19.30 WIB.

Menurut rencana, tahun ini film ini juga akan diputar keliling Eropa, mulai Amsterdam, Brussel, Paris, Berlin dan Hamburg. Pemutaran perdana sengaja dilakukan di Rangkasbitung, Lebak, tempat dari mana Multatuli terinspirasi untuk menulis kisah-kisah penderitaan rakyat jajahan yang terwakili dalam cerita Saidjah dan Adinda dari Desa Badur. (Adit/em)

-::-Ter Viral-::-


To Top
WhatsApp chat